JANGAN LATAH MERAYAKAN MALAM PERGANTIAN TAHUN

Euforia perayaan tahun baru masehi terasa di berbagai tempat, tak terkecuali di Indonesia yang warganya mayoritas muslim. Mulai dari anak-anak, dewasa, hingga manula tak pelak menyambut kedatangannya dengan suka cita. Ada yang mengisi malam akhir tahunnya dengan acara bakar-bakar ayam, membunyikan terompet, menyalakan petasan dan kembang api, mengikuti konser, hingga menghadiri perayaannya di pusat-pusat kota. Bahkan, tak sedikit ibu-ibu yang rela memboyong anaknya yang masih bayi untuk sekedar menyaksikan denting jam pergantian tahun.

Sekilas tentang sejarah dan ritual pergantian tahun

Hal lainnya yang juga harus kita pahami kenapa kita dilarang merayakan tahun baru masehi, karena perayaan itu bukan berasal dari ajaran Islam, melainkan tradisi umat Yahudi dan Nasrani. Awal mula perayaannya berasal dari Romawi yaitu tak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebaai kaisar Roma. Ia bersama seorang ahli ekonomi dari Iskandariyah, Sosigenes kemudian mengganti penanggalan tradisional Romawi dengan mengikuti revolusi matahari. Menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari.

Di beberapa negara, ritual pergantian malam tahun baru dikemas dengan berbagai bentuk perayaan. Di Brazil, pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja, Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Sedangkan dalam tradisi Romawi kuno, mereka saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa ini.

Lain lagi di Jerman, mereka memiliki tradisi memakan sisa hidangan pesta perayaan tahun baru di tanggal 1 Januari. Sebab, menurut kepercayaan mereka, mereka tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Di Amerika Serikat, kebanyakan perayaan dilakukan malam sebelum tahun baru, pada tanggal 31 Desember, di mana orang-orang pergi ke pesta atau menonton program televisi dari Times Square di jantung kota New York, di mana banyak orang berkumpul. Pada saat lonceng tengah malam berbunyi, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan dan orang-orang menerikkan “Selamat Tahun Baru” dan menyanyikan Auld Lang Syne.

Mayoritas bukan ukuran kebenaran

Kadangkala, mereka yang tidak ikut perayaan tahun baru dicibir dengan sebutan kuno, kuper, ketinggalan zaman, dan sebagainya. Kita tak pantas jika merayakannya hanya sekedar ikut-ikutan. Padahal, jika kita merenungkan firman Allah SWT dalam Alquran mengenai keadaan kebanyakan orang (mayoritas), maka kita akan menemukan bahwa diantara mereka adalah orang-orang yang tersesat, zhalim dan bodoh.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

(QS.al-An’am/6: 116)

Menurut Imam Baidhowi rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud dengan umumnya manusia adalah orang-orang kafir atau orang-orang bodoh tentang agama atau pengikut hawa nafsu. Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah juga memberikan penjelasan tentang ayat ini: bahwasannya kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena sedikit orang yang mengerjakannya. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika Beliau ditanya tentang bagaimana menjawab sebagian manusia yang berargumen bahwa mayoritas manusia mengerjakan ketika ia dilarang dari perbuatannya karena menyimpang dari syariat Islam, Beliau menjawab bahwasannya mayoritas bukanlah dasar kebenaran (artikel.masjidku.id).

Jika dalam lingkup kecil seperti keluarga, atau hubungan pertemanan kita terasing dan dibenci karena memilih meninggalkan sesuatu yang merusak akidah, tidak mengapa. Sebab jika kita mengikuti mereka berarti kita menghancurkan akidah dan menjerumuskan diri kita sendiri dalam kebinasaan. Tetaplah berpegang teguh kepada Alquran dan as sunnah agar kita tidak tersesat dan menjadi bagian dari mayoritas. Jika manusia ramai-ramai bermaksiat di malam tersebut, maka anggap saja bagi kita malam tersebut tak obahnya seperti malam-malam biasa yang diisi dengan sesuatu yang bermanfaat untuk akhirat. Kita dapat memilih untuk meramaikan kajian, tabligh akbar atau menghadiri acara muhasabah akhir tahun. Tentu mereka yang lebih memilih mengisi malamnya dengan sesuatu yang diluar kebiasaan orang kebanyakan adalah diantara yang ‘sedikit’ yang disebutkan Allah SWT dalam Alquran.

Sebuah renungan

Satu hal yang juga patut menjadi renungan, jika di belahan dunia lain seperti Suriah menghadapi tahun-tahun terberatnya dengan jatuhan rudal dan bom barel, maka kita justru sebaliknya. Kita malah menantang langit dengan menghunuskan ledakan kembang api. Jika anak-anak di Afrika menderita kematian karena busung lapar, maka kita justru sedang menghabiskan uang kita untuk sesuatu yang sama sekali tidak bermanfaat. Pun, jika di kota Nabi kita melihat malam-malam pergantian tahun masehi tak obahnya seperti malam-malam biasa. Di negeri kita seakan pemerintah memfasilitasi perayaan tersebut dengan mengizinkan adanya perayaan tahun baru. Namun, ketika dilakukan aksi seperti aksi 212, pemerintah seakan meradang dan berupaya menghalang-halangi.

Melihat fenomena yang sudah mendarah daging ini, maka kita patut mencari solusi untuk memperbaiki akidah dan pemikiran kaum muslimin. Jika hanya memperhatikan aspek dakwah dari sisi individu, maka kemungkinan dakwah berhasil memerlukan waktu yang lebih lama dan upaya yang tak sedikit. Lebih efektif jika dakwah dilakukan dengan mengubah masyarakat. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh negara. Sebab, negara memiliki andil untuk ‘memaksa’ rakyatnya agar tunduk kepada hukum Allah SWT dengan tidak merayakan ritual tahun baru yang notabene bukan berasal dari Islam. Sebab, mengikuti millah Yahudi dan Nasrani akan semakin menjauhkan kita dari dien yang sempurna, Islam.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s