ISLAM MEMANDANG LIBERALISASI PENDIDIKAN

Pengantar

Islam tidak mengenal bentuk pemerintahan monarchi, kekaisaran, federasi, dan republik seperti yang dianut Indonesia saat ini. Begitu juga dengan sistem pemerintahan lainnya yang berlaku di kebanyakan negara di dunia. Dalam Islam, bentuk pemerintahan yang sah adalah satu kepemimpinan tunggal atas seluruh ummat muslim diseluruh dunia. Kepemimpinan umum tersebut adalah khilafah. Dalam negara khilafah, tatanan kenegaraannya terdiri atas 2 aspek yaitu sistem pemerintahan dan struktur administratif (kemaslahatan umum) yang didalamnya terdiri dari kewarganegaraan, transportasi, pencetakan mata uang, pendidikan, kesehatan, pertanian, ketenagakerjaan, jalan, dan sebagainya.

 Pendidikan dalam Islam

Sebagaimana disebutkan diatas bahwasannya pendidikan termasuk kedalam aspek kemaslahatan umum (mashlahiyyah). Adapun tujuan pendidikan dalam Islam adalah menanamkan aqidah islam yang kokoh serta berupaya membina dan mendidik individu sehingga memiliki syakhshiyyah islamiyyah yang khas. Islam tidak hanya mengajarkan pendidikan dalam bentuk transfer ilmu seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi sekarang, namun Islam berupaya mewujudkan dan menyelaraskan antara aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) individu. Islam juga mengajarkan bahwasannya tujuan ilmu adalah untuk diterapkan secara praktis dalam kehidupan, tidak hanya sebagai pemuas akal semata.

Kemunduran intelektual dan paradigma berpikir bebas

Sebagaimana banyak kita lihat, bahwasannya pendidikan sekarang tidak lagi menjadikan akidah Islam sebagai pegangan. Para intelektual dan akademisi justru lebih menyukai mempelajari tsaqafah-tsaqafah Barat seperti filsafat, teologi, dan lainnya. Mereka dengan bangga sambil membusungkan dada bilamana mereka mampu melawan wahyu dengan akal. Mereka terdidik berpikir liberal dan cendrung menggunakan logika (manthiq) tanpa mempedulikan wahyu berupa Al-Quran dan As-Sunnah. Betapa banyak para pemikir dan cendekiawan di negri muslim saat ini namun keberadaannya justru tidak membawa ummat Islam menjadi kearah yang lebih baik dan menjadi contoh bagi ummat lainnya. Malah kondisi mereka makin terpuruk disebabkan para intelektualnya yang malah sibuk memperkaya diri. Mereka disibukkan dengan penelitian-penelitian dan proyek yang didanai asing, yang disadari atau tidak justru menguntungkan asing dan membuka celah lebar-lebar bagi mereka untuk menguasai Indonesia. Mereka seakan lupa bahwasannya bekerjasama dengan asing sama saja dengan bunuh diri politik.

Pendidikan yang berorientasi materi

Adapun tujuan pendidikan dalam sistem saat ini terutama perguruan tinggi yang awalnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa telah berubah menjadi berorientasi materi. Sehingga para intelektual berlomba-lomba membuat proposal-proposal demi mendapatkan curahan dana dari asing. Dalam sistem demokrasi saat ini, wajar apabila semua aspek yang berkaitan dengan struktur administratif (kemaslahatan umum) menjadi komoditi, termasuk aspek pendidikan. 

Pendidikan yang berorientasi materi akan menghasilkan SDM yang kualitasnya bergantung pada permintaan pasar, yaitu kualitas pekerja bukan pemimpin. Untuk merombaknya maka diperlukan kurikulum pendidikan yang tepat sasaran yaitu kurikulum Islam yang tidak berorientasi pasar.  Kurikulum pendidikan Islam ini akan mampu mencetak SDM yang kelak mampu memimpin bangsanya menjadi bangsa yang besar, kuat dan terdepan serta melahirkan generasi berkepribadian Islam, berpola pikir dan pola sikap berdasarkan akidah Islam yang bersumber dari Sang Pencipta, Allah SWT.*

 Solusi praktis mengakhiri liberalisasi pendidikan

Oleh sebab itu, agar pendidikan tidak dijadikan sebagai alat komoditas pasar, kita berkewajiban untuk mewujudkan sistem Islam. Sistem yang mampu menanamkan nilai-nilai aqidah Islam yang jauh dari aspek materi. Sistem yang mampu melindungi para intelektual agar tidak menjadi sapi perah asing. Juga sistem  yang mampu melenyapkan hegemoni kafir Barat atas kaum muslimin diseluruh dunia dengan menjauhkan tangan-tangan mereka darinya. Khalifah sebagai pemimpin tertinggi (amir) akan berusaha menjadi junnah (perisai) dimana rakyat akan berperang dibelakangnya. Satu-satunya sistem yang mampu mewujudkan itu semua adalah sistem Islam dibawah naungan Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s