Renungan #2

Sahabat..pernahkah ketika kita menyampaikan dakwah tentang kebaikan, seperti mengajak untuk menutup aurat, shalat berjamaah ke mesjid, atau ajakan kebaikan lainnya seperti shaum sunnah senin-kamis, banyak orang yang menerima. Pun ketika diadakan kajian yang temanya seputar masalah diatas, kemungkinan tidak akan banyak dijumpai pergolakan pemikiran. Sebab, adalah fitrah manusia, ketika diseru pada kebaikan dengan cara yang ma’ruf, ia akan menerima. Namun, lain cerita ketika kita ‘move on’ mendakwahkan tentang haramnya pacaran, haramnya riba, juga tak ketinggalan haramnya berhukum degan selain hukum Allah. Topik-topik ‘rawan’ seputar ini tak jarang memunculkan kontroversi. Bahkan dapat membuat antar pengikut suatu harokah yang ‘katanya’ memperjuangkan Islam bermusuhan. Misalkan ketika jelang pemilu, katakanlah ada harokah a yang mendakwahkan bahwasannya demokrasi itu haram. Tentunya setelah dijabarkan nash-nash baik itu dari Al-Quran maupun As-Sunnah terkait keharamannya. Ternyata, niat baik tersebut tak selalu berujung baik. Ternyata ada sebagian anggota harokah b menuding bahwa harokah a menyebarkan ‘fitnah’ dan memprovokasi masyarakat yang sebelumnya tenang-tenang saja. Walhasil, timbullah kebencian yang mendalam. Oknum harokah b kemudian melarang teman-temannya untuk menjauhi harokah a karna dianggap biang kericuhan. Bahkan, ada juga yang tak peduli terhadap kebaikan yang keluar dari lisan para pengikut harokah a karena sebatas melihat tampilan luar mereka yang dinilai no action talk only alias NATO.

Wahai saudaraku..ketika engkau memilih jalan perjuangan kau akan mendapati ada saja yang tak setuju. Ketika kebanyakan orang memilih berdakwah dengan beramar makruf saja, kita memilih untuk menjalankan amar makruf sekaligus nahi mungkar. Sebab, berdakwah bukan hanya mengajak untuk beribadah saja. Menjelaskan kebatilan sistem dibawah kendali demokrasi juga termasuk dakwah. Mengkampanyekan pacaran haram juga dakwah, meskipun banyak orang yang akan merasa ‘tersindir’, namun kewajiban kita tetap menyampaikan. Disinilah kita perlu menyusun kosakata agar pihak yang ingin didakwahi termotivasi tanpa merasa dihakimi. Sebab kadangkala bukan kebenaran yang membuat orang lain lari, tapi kita yang kurang uslub dalam menyampaikan. Sebab, tak jarang para pendakwah menggunakan bahasa ‘sarkasme’ seperti bodoh, tolol dan semacamnya seakan-akan mereka mengira bahwa baik ucapannya maupun tulisannya tak akan dimintakan pertanggungjawaban di akhirat. Jika telah berusaha mengkondisikan hal diatas namun tetap masih ada pihak yang tak terima, maka bersabarlah. Boleh jadi itu ujian untuk menempa diri menjadi lebih sabar lagi, juga lebih piawai lagi dalam menentukan uslub yang tepat. Penerimaan hanya masalah waktu.

#MuhasabahUntukkuJugaUntukmu

Semoga Allah SWT menyegerakan pertolongan-Nya lewat perjuangan para pengemban dakwah diseluruh dunia, baik dengan lisan, tulisan, maupun amal perbuatan.
Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s