Renungan #1

Assalamu’alaykum sahabat..

Manusia dengan kedudukannya sebagai makhluk dari sang Pencipta, Allah SWT memiliki keistimewaan dibandingkan ciptaan-Nya yang lain. Manusia diberi anugrah berupa akal yang dapat digunakan untuk berpikir, yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya baik hewan maupun malaikat. Akal yang telah diberikan Allah SWT untuk berpikir memiliki potensi yang luar biasa yang dapat digunakan untuk mencermati apa-apa yang terdapat di alam semesta, manusia, dan kehidupan. Dengan mengenali alam semesta, kita dapat menangkap pesan keteraturan dari Sang Pencipta. Mulai dari struktur terkecil dalam tubuh kita seperti atom, sel, jaringan, organ, semuanya bekerja secara terstruktur tanpa berhimpitan satu sama lain. Betapa kita dibuat kagum akan kerja organ seperti jantung, yang bekerja memompa darah sejak kita berada dalam rahim hingga dapat merasakan hidup didunia. Demikian juga planet-planet, asteroid, bintang-bintang, galaksi, tata surya semuanya memiliki garis edar tersendiri yang membuatnya tak bertubrukan satu sama lain. Semuanya mengikuti kehendak dari yang Maha Berkehendak tanpa ada secuilpun yang luput dari pengawasan-Nya. Bahkan, tetumbuhan, ikan di lautan, alam semesta, semuanya bertasbih karena ketundukan kepada-Nya meskipun manusia tak paham tasbih mereka. Afalaa tatadzakkarun? Cobalah bayangkan, betapa kita tidak meleleh karena nikmat yang telah diberikan-Nya. Bumi dengan segala isinya, telah diperuntukkan bagi manusia untuk dimanfaatkan dan dikelola. Namun sayangnya, manusia sering lupa bersyukur dan mendurhakai perintah Allah SWT. Padahal, dibalik itu semua, Allah SWT menunggu-nunggu kita sebagai hamba-Nya untuk sekedar bersimpuh mengiba penuh harap, meskipun hanya sekedar mengadukan perihal tali sandal yang putus. Marilah sahabat, kita kembali pada-Nya. Kembali pada aturan-Nya sebab kita telah mengikat perjanjian dengan Allah semenjak kita belum dilahirkan ke dunia, bahwasannya kita akan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Mari merenung. Bukankah kampung nenek moyang kita Nabi Adam dan Siti Hawa adalah surga? Lantas apakah kita akan membelinya dengan harga yang murah? Sudah cukupkah tabungan kita? Apakah kita yakin kebaikan dan pahala kita tak terhapus oleh asap dengki, benih-benih riya’ ujub, serta berbagai pembatal amal lainnya? Semoga kita dijauhkan dari itu semua. Aamiin yaa Rabb..

#Mari bermuhasabah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s