Posted in Renungan

JODOH

Bicara jodoh memang tak ada habisnya. Topik ini mampu menyita perhatian jomblo, juga mampu membuat mereka ‘bangun’ dari tidurnya sewaktu halqah, hehe. Setiap ada pembahasan seputar jodoh, kita selalu semangat membahasnya, bahkan yang baru ngaji kitab Nizham al-islam pun tak ketinggalan melahap kitab Nizham ijtima’i saking semangatnya. Hal tersebut wajar, sebab manusia memiliki naluri (gharizah nau’). Namun, tak lantas dengan adanya naluri tersebut, kita bertindak bebas. Bebas berinteraksi dengan lawan jenis, bebas pegang-pegangan tangan, hingga bebas pacaran, hingga tak ada lagi harga diri. Baru pada saat itulah, kita tersadar dan menyesali nista diri. Padahal, Allah SWT telah jelas-jelas memperuntukkan aturan bagi manusia agar mereka berjalan sesuai dengan koridor syara’. Baik wanita maupun laki-laki yang telah baligh diwajibkan menutup aurat. Selain itu, mereka juga diperintah agar menundukkan pandangan (gadhul bashar). Dibalik semua perintah tersebut, Allah SWT pasti menyediakan hikmah yang besar.

Bicara masalah jodoh, kita seringkali jauh-jauh hari telah mempersiapkan bekal. Mulai dari ilmu masak-memasak, parenting, arsitektur, hingga menjadi istri yang baik. Segala informasi di internet dilahap, demikian juga dengan buku-buku, tak ketinggalan menghadiri seminar dan kajian bertajuk persiapan pra nikah. Kita rela berkorban untuk mempersiapkan segalanya. Namun, ada satu hal yang sering kita lupakan. Bahwasannya, ada hal yang lebih ‘pasti’ melamar yaitu kematian. Janji kematian yang akan menjumpai walau kita berlindung dibalik benteng yang tinggi lagi kokoh. Janji kematian yang tak dapat dimajukan dan dimundurkan barang sedetik pun. Kita tak bisa memilih dimatikan dalam keadaan bertaqarrub kepada Allah SWT, pun ketika mati dalam keadaan maksiat. Banyak yang mengingat jodoh dan melupakan kematian. Padahal, malaikat Izrail pun heran dengan manusia yang banyak tertawa padahal kain kafannya sedang ditenun. Ah, andai manusia tau kapan ia dimatikan, niscaya ia akan mempersiapkan dengan sebaik-baiknya. Namun, kematian adalah rahasia Allah SWT. Tidak ada yang tahu bahkan oleh manusia sekaliber Rasulullah SAW.

Menunggu kematian berarti butuh banyak persiapan. Seperti jodoh, ia juga butuh persiapan lahir dan bathin. Persiapan lahir berarti memperbanyak ibadah. Ibadah wajib diiringi dengan ibadah sunnah. Jika berat bagi kita untuk shalat malam, maka capailah pintu surga dengan banyak berpuasa. Jika berat bagi kita berpuasa, maka capailah dengan lewat pintu sedekah. Sebab, surga memiliki banyak pintu untuk dimasuki oleh ahli ibadah. Persiapan bathin juga tak boleh disepelekan. Mempersiapkannya dengan jalan senantiasa menyucikan hati. Sebab tak jarang ahli ibadah tergelincir dalam perkara hati. Namun, banyak juga manusia berhati bersih namun sedikit ibadahnya yang ditolong oleh Allah SWT. Kita berharap semoga tergolong kedalam ahli ibadah yang bersih hatinya. Sebab kita tak pernah tahu akhir hidup kita. Barangkali dengan kebaikan kecil yang telah kita lakukan menjadi wasilah perantara surga, seperti kisah seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing yang kehausan. Siapa sangka orang yang begitu hina akan masuk kedalam surga-Nya? Naudzubillah. Semoga kita semua dianugerahi kematian dalam keadaan husnul khatimah, juga (kalau Allah mengizinkan) mendapatkan jodoh yang baik yang dapat mengantarkan kita menuju pelabuhan akhir, kampung akhirat.

Wallahu a’lam.

Advertisements

Author:

Muslimah Pejuang Syariah & Khilafah | Blogger | Writer | Sedang berjuang menuntaskan amanah sebagai anak, mahasiswa, dan pengemban dakwah. Doakan agar istiqamah. Semoga kita bersua di jannah-Nya..Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s