Iman yang Kuat dan Produktif

Buletin Kaffah no. 002, 18 Agustus 2017/25 Dzulqa’dah 1438 H

Agar manusia bisa menjalani hidup di dunia dengan benar dan terus meningkat hingga mencapai taraf kehidupan paling tinggi, ia harus memiliki keyakinan mendasar yang melandasi seluruh hidup dan kehidupannya. Keyakinan mendasar itu berupa jawaban yang benar tentang apa itu hakikat alam, manusia dan kehidupan; apa yang ada sebelum dunia dan yang ada sesudah dunia; serta apa hubungan antara dunia dengan yang ada sebelum dan sesudah dunia. Jawaban atas ketiga hal itu akan menjadi pemikiran integral (fikrah kulliyah) yang akan menjadi dasar semua perilaku dalam menempuh hidup di dunia serta mengelola kehidupan dunia.

Islam telah memberikan jawaban atas ketiga hal itu dengan jawaban yang benar dan sesuai fitrah; jawaban yang memuaskan akal dan menenteramkan hati. Jawaban itu adalah akidah Islam. Akidah Islam inilah yang berpengaruh menentukan dan mengarahkan kehidupan manusia sehingga produktif dan tidak jumud.

Islam memberikan jawaban atas ketiga pertanyaan mendasar itu dengan jawaban bahwa di balik alam, manusia dan kehidupan ada Sang Pencipta (Al-Khâliq). Dialah Yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Dialah Allah SWT, Zat Yang wâjib al-wujûd (keberadaan-Nya mutlak).

Keberadaan sang Pencipta bisa diyakini secara pasti dari hasil perenungan tentang keberadaan alam, manusia dan kehidupan. Alam, manusia dan kehidupan, baik masing-masing ataupun secara keseluruhan, memiliki keterbatasan. Akal pun memastikan bahwa segala hal yang memiliki keterbatasan bersifat lemah, serba kurang dan memerlukan yang lain. Semua yang terbatas, lemah, serba kurang dan membutuhkan pihak lain mustahil datang dan ada dengan sendirinya. Dengan demikian adanya manusia, alam dan kehidupan yang memiliki keterbatasan, kelemahan dan kekurangan serta membutuhkan yang lain meniscayakan keberadaan Sang Pencipta. Dialah Tuhan Yang menciptakan semua itu dari ketiadaan. Semua yang tercipta pastilah tidak azali, artinya pasti ada awal dan akhirnya.

Sifat Al-Khâliq

Berbicara tentang keberadaan Sang Pencipta (Tuhan), maka hanya ada tiga kemungkinan. Pertama: Tuhan merupakan ciptaan dari yang lain. Kedua: Tuhan menciptakan dirinya sendiri. Ketiga, Tuhan bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir) dan wâjib al-wujûd (wajib ada).

Kemungkinan pertama secara pasti adalah batil. Sebab, jika Tuhan merupakan ciptaan dari yang lain, berarti Tuhan adalah makhuk, bukan al-Khâliq. Kemungkinan kedua juga batil karena berarti Tuhan menjadi al-Khâliq sekaligus makhluk. Ini mustahil. Alhasil, Tuhan haruslah bersifat azali, yakni tidak berawal dan tidak berakhir. Tuhan haruslah wâjib al-wujûd (keberadaannya mutlak). Dialah Allah SWT.

Orang yang berakal akan memahami bahwa keberadaaan segala sesuatu adalah ciptaan (makhluk) dari Sang Pencipta (Al-Khâliq). Dengan mengarahkan pandangan pada segala sesuatu berupa alam, kehidupan dan manusia kita meyakini bahwa semua itu cukup untuk dijadikan argumentasi dan dalil atas keberadaan Sang Pencipta yang Maha Pengatur (Al-Khâliq al-Mudabbir). Oleh karena itu kita mendapati al-Quran mengarahkan perhatian dan pandangan manusia pada segala sesuatu—yang serba terbatas, serba lemah dan serba kurang—untuk membuktikan keberadaan Sang Pencipta, Allah SWT. Di dalam al-Quran terdapat ratusan ayat yang seperti itu. Di antaranya ayat berikut:

﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ﴾
Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal (TQS Ali Imran [3]: 190

Allah SWT juga berfirman:

﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ﴾
Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, air yang Allah turunkan dari langit—lalu dengan air itu Dia menghidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya, penyebaran di bumi itu segala jenis hewan, serta pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, benar-benar merupakan tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal (TQS al-Baqarah [2]: 164).

Dengan demikian bisa diyakini dan diimani secara pasti bahwa di balik alam semesta, manusia dan kehidupan ini ada Al-Khâliq. Dialah Yang menciptakan semua itu. Dialah Allah SWT, Zat Yang azali dan wâjib al-wujûd.

Lalu dengan merenungkan keteraturan semua unsur alam semesta, manusia dan kehidupan ini, bisa dipastikan keesaan Allah SWT sebagai Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Sebab, andai Al-Khâliq al-Mudabbir itu berbilang, niscaya rusaklah alam, manusia dan kehidupan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

﴿لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ﴾
Andai ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah langit dan bumi itu telah rusak binasa. Mahasuci Allah, Zat Yang mempunyai ‘Arsy, dari apa saja yang mereka sifatkan (TQS al-Anbiya` [21]: 22).

Alhasil, keberadaan (eksistensi) Allah SWT dan keesaan-Nya telah bisa diyakini dan diimani secara pasti dengan proses berpikir secara ‘aqliyyah disertai dengan bukti-bukti dan dalil pasti. Adapun tentang hakikat (esensi) Zat-Nya tidak mungkin bisa dijangkau oleh akal. Sebabnya, Zat-Nya berada di balik apa yang bisa dijangkau akal. Keimanan atas hakikat Allah SWT berikut nama-nama, sifat-sifat dan sebagainya haruslah didasarkan pada informasi dari Allah SWT sendiri di dalam wahyu-Nya.

Al-Quran Kalamullah, Muhammad Rasulullah saw.

Keberadaan al-Quran sebagai kalamullah juga bisa diimani secara ‘aqliyyah, yakni dari fakta al-Quran yang berbahasa Arab. Dalam hal ini hanya ada tiga kemungkinan: (1) Al-Quran itu karangan bangsa Arab; (2) Al-Quran itu karya Muhammad saw.; (3) Al-Quran itu merupakan kalamullah.

Kemungkinan pertama tentu batil. Pasalnya, Allah SWT sendiri telah menantang semua orang Arab untuk membuat yang semisal al-Quran (QS al-Baqarah [2]: 23 dan Hud [11]: 13). Sudah terbukti secara pasti bahwa seluruh orang Arab tidak mampu menjawab tantangan itu. Jadi, mustahil al-Quran merupakan karangan bangsa Arab. Kemungkinan kedua juga batil. Pasalnya, Muhammad adalah bagian dari bangsa Arab. Jika seluruh orang Arab tidak mampu membuat semisal al-Quran, apalagi hanya seorang Muhammad. Tentu lebih mustahil lagi al-Quran dikarang okeh orang non-Arab. Alhasil, kemungkinan ketigalah yang benar, yakni bahwa al-Quran merupakan kalamullah dan menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya. Muhammadlah yang membawa al-Quran yang merupakan kalamullah dan syariah-Nya itu, sementara tidak ada yang membawa syariah Allah SWT kecuali para nabi dan rasul. Karena itu bisa dipastikan bahwa beliau adalah seorang nabi dan rasul-Nya.

Kesimpulan

Dengan demikian keimanan kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta, al-Quran sebagai kalamullah serta Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul-Nya telah bisa dibangun secara ‘aqliyyah dengan bukti dan dalil. Hal itu menjadi pilar tegaknya keimanan pada semua hal gaib dan apa saja yang diberitahukan oleh Allah SWT dalam al-Quran baik yang bisa dijangkau akal ataupun tidak. Dari sini berarti kita wajib mengimani Hari Kebangkitan (Hari Kiamat), surga, neraka, hisab, azab, para malaikat, jin, setan dan lainnya yang telah diinformasikan secara pasti (qath’i) oleh al-Quran atau hadis-hadis mutawatir.

Berdasarkan hal itu, kita wajib mengimani apa yang ada sebelum kehidupan dunia. Itulah Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Kita pun wajib mengimani apa yang ada sesudah kehidupan dunia. Itulah alam akhirat sebagai tempat kembali manusia kepada Sang Pencipta (Allah SWT). Konsekuensinya, kita pun wajib mengimani sekaligus melaksanakan seluruh ketentuan Allah SWT, yakni syariah-Nya, yang faktanya Dia turunkan untuk mengatur kehidupan manusia di muka bumi ini. Artinya, manusia wajib berjalan di kehidupan dunia ini sesuai dengan aturan-aturan Allah, sesuai syariah-Nya, dalam segala tindak tanduknya dan dalam segala pengaturan kehidupan individu, keluarga dan masyarakat dalam segala aspeknya. Manusia wajib menjalankan dan menerapkan syariah Allah SWT secara keseluruhan dalam seluruh aspek kehidupan dunia. Tentu manusia akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban pada Hari Kiamat atas semua itu, yang akan menentukan apakah dia akan menempati surga dengan segala kenikmatannya atau dijebloskan ke dalam neraka dengan segala azabnya yang amat pedih.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ»
Nabi saw. bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia menjadikan hawa nafsunya tunduk pada apa yang aku bawa (al-Quran dan as-Sunnah).” (Al-Baghawi, Syarh as-Sunnah, I/213; Ibn Bathah, Al-Ibânah al-Kubrâ, I/387).

Majza’ah bin Tsaur As-Sadusi

“Majza’ah bin Tsaur adalah seorang patriot pemberani yang mampu membunuh seratus orang musyrikin. Apa pendapatmu tentang orang yang berani membunuh kaum musyrikin di medan laga?!”

Merekalah para patriot dan pahlawan jundullah yang telah mengibaskan debu Al-Qadisiyah di wajah karena bergembira atas kemenangan yang Allah berikan kepada mereka. Mereka merasa iri kepada sahabat yang telah mendapatkan pahala syahadah.

Mereka berharap menjumpai peperangan yang begitu besar dan hebat seperti Al-Qadisiyah. Mereka juga menanti-nanti perintah dari Khalifah Umar bin Khattab untuk meneruskan jihad demi merobohkan kekuasaan Kisra dari akarnya.

***

Keinginan para pejuang ini tidak membutuhkan banyak waktu untuk terwujudkan.

Tersebutlah seorang utusan Khalifah Umar yang berangkat dari Madinah ke Kufah dengan membawa perintah dari Khalifah untuk wali (gubernur) Kufah yang bernama Abu Musa al-Asy’ari. Surat tersebut memerintahkan untuk menggerakkan pasukan Islam yang ada di sana dan bergabung dengan pasukan Muslimin yang berasal dari Bashrah, kemudian berangkat bersama menuju Ahwaz untuk mengejar Hurmuzan dan membunuhnya. Lalu membebaskan kota Tustar sebagai jantung negeri Raja Kisra.

Dalam surat Khalifah Umar yang diperuntukkan kepada Abu Musa al-Asy’ari dinyatakan bahwa Abu Musa harus ditemani oleh seorang penunggang kuda yang gagah berani bernama Majza’ah bin Tsaur As-Sadusi, seorang pemuka dan pemimpin Bani Bakr.

***

Abu Musa al-Asy’ari melaksanakan perintah Khalifatul Muslimin. Lalu ia mempersiapkan pasukannya. Sebagai panglima pasukan infanteri adalah Majza’ah bin Tsaur as-Sadusi. Kemudian pasukan Abu Musa bergabung dengan pasukan Muslimin yang datang dari Basrah, lalu bersama-sama menuju ke medan peperangan sebagai pejuang di jalan Allah.

Pasukan kaum Muslimin terus menerus berhasil membebaskan berbagai kota, melepaskan belenggu pada para penduduknya dan Hurmuzan selalu berlari dari kaum Muslimin sehingga ia berlindung di Kota Tustar.

***

Tustar yang dijadikan tempat berlindung Hurmuzan adalah sebuah kota yang paling indah dan kuat pertahanannya.

Tustar juga merupakan kota bersejarah yang terletak di sebuah daratan tinggi dan dibangun dengan seni ala Persia. Tempat ini dialiri oleh sebuah sungai besar yang disebut dengan Dujail.

Di bagian atas kota tersebut ada sebuah pancuran yang dibangun oleh Raja Sabur untuk mengangkat air sungai yang melintasi beberapa saluran yang ia gali di bawah bumi.

Pancuran Tustar dan salurannya adalah hal yang paling menarik dari bangunan tersebut, karena ia diikat dengan batu besar, ditopang dengan tiang-tiang baja dan pancuran serta salurannya dilapisi dengan kapur.

Di sekeliling Tustar dibangun tembok besar dan tinggi yang mengelilingi Tustar dengan begitu rapatnya. Para ahli sejarah mengatakan tentang kehebatan tembok ini. “Tembok ini adalah tembok pertama dan terbesar yang pernah dibangun di muka bumi.”

Lalu Hurmuzan menggali sebuah parit besar di sekeliling tembok untuk menghalangi pasukan musuh yang ingin masuk, dan ia pun menyiapkan barisan pasukan berkuda yang terbaik sebagai pendukungnya.

***

Pasukan Muslimin berkemah di sekeliling parit Tustar selama 18 bulan karena tidak bisa melewatinya. Dan mereka sudah melakukan perang selama masa tersebut sebanyak 8 kali melawan pasukan Persia.

Setiap peperangan tersebut dimulai dengan duel antara pasukan berkuda, yang kemudian diteruskan dengan peperangan yang hebat antara kedua pasukan.

Majza’ah bin Tsaur telah membuat sebuah aksi fantastis dan mengejutkan baik kawan maupun lawan pada saat yang sama.

Ia telah mampu membunuh 100 orang pejuang berkuda pasukan musuh. Karenanya, nama Majza’ah membuat pasukan Persia menjadi gentar dan sebaliknya hal itu membuat pasukan Muslimin semakin teguh dan tak gentar.

Sejak saat itulah orang-orang yang belum mengerti sebelumnya menjadi mengerti mengapa Amirul Mukminin begitu berkeras agar Majza’ah yang gagah berani ini ditempatkan pada posisi terdepan pasukan Muslimin.

***

Pada akhir dari peperangan yang berjumlah delapan itu, pasukan Muslimin telah berhasil mengalahkan pasukan Persia, sehingga Persia membuka pagar yang dibangun di atas parit dan akhirnya mereka berlindung di dalam kota. Sesampainya di kota, mereka menutup semua gerbang kota dengan begitu rapat.

***

Pasukan Muslimin yang telah menjalani masa penantian yang begitu lama kini mengalami situasi yang lebih parah lagi. Hal itu disebabkan, karena pasukan Persia menghujani pasukan Muslimin dengan anak panah yang mereka lesatkan dari ketinggian menara-menara.

Mereka juga melemparkan rantai-rantai besi dari atas tembok. Di ujung setiap rantai terdapat penjepit yang begitu panas.

Jika adalah seorang dari pasukan Muslimin hendak menaiki tembok tadi atau mendekatinya, maka pasukan Persia akan melemparkan rantai dan penjepit besi tadi dan menariknya ke arah mereka. Karenanya, badan yang terkena rantai besi yang amat panas tadi akan terbakar dibuatnya, dan dagingnya akan terkelupas sehingga dapat menyebabkan kematian.

***

Kali ini kondisi pasukan Muslimin terasa amat sulit. Mereka semua berdoa dengan hati yang khusyuk kepada Allah karena khawatir mereka akan dikalahkan. Mereka juga meminta kepada-Nya agar diberikan kemenangan melawan musuh Allah dan musuh mereka.

Ketika Abu Musa al-Asy’ari sedang merenungi kehebatan tembok Tustar yang besar dan hal itu membuatnya putus asa untuk dapat menembusnya, tiba-tiba ada sebuah anak panah yang jatuh di hadapannya yang berasal dari atas tembok. Lalu ia melihatnya dan ternyata anak panah tersebut membawa sebuah surat yang berbunyi, “Aku percaya kepada kalian, wahai kaum Muslimin. Aku meminta jaminan kepada kalian atas diriku, hartaku, keluargaku dan para pengikutku. Sebagai kompensasinya aku akan menunjukkan kepada kalian sebuah jalan rahasia menuju kota Tustar.”

Maka Abu Musa memberikan jaminan keamanan kepada penulis surat tadi, dan ia langsung mengirimkan lewat sebuah anak panah.

Lalu orang tersebut yakin dengan jaminan keamanan yang diberikan kaum Muslimin karena sifat mereka yang terkenal menepati janji dan menjaga perjanjian. Ia pun akhirnya menyusup ke barisan kaum Muslimin pada saat kegelapan malam dan berbicara kepada Abu Musa dengan fakta yang dibawanya:

“Kami adalah pembesar bangsa Persia. Hurmuzan pernah membunuh kakak tertuaku. Ia juga telah merampas harta dan keluarga kakakku. Ia juga hendak melakukan kejahatan kepadaku sehingga aku sudah tidak percaya kepadanya atas keamanan diriku dan keluargaku.

Maka aku memilih kalian yang adil atas kezalimannya. Aku memilih kalian yang menepati janji daripada dia suka berkhianat. Aku berniat untuk memberitahukan kalian sebuah jalan rahasia yang dapat mengantarkan kalian menuju Tustar.

Kirimkanlah kepadaku seorang yang pemberani, cerdas dan pandai berenang agar aku dapat menunjukkan kepadanya jalan tersebut!

***

Lalu Abu Musa Al-Asy’ari memanggil Majza’ah bin Tsaur as-Sadusi. Kemudian ia memberitahukan berita ini. Abu Musa berkata, “Kirimkan seorang dari kaummu yang cerdas dan pemberani, juga pandai berenang!”

Majza’ah menjawab, “Biarkanlah aku yang melakukannya, wahai Amir!”

Abu Musa berkata, “Jika engkau menginginkannya, semoga engkau diberkahi Allah!”

Kemudian Abu Musa berwasiat kepada Majza’ah untuk menghafal jalan, mengenali letak jalan tersbeut, menginformasikan letak persembunyian Hurmuzan dan selalu mengawasinya dan jangan pernah melakukan hal apa pun selain itu.

Lalu Majza’ah berangkat di kegelapan malam bersama orang Persia yang menunjukkannya. Kemudian orang tersebut memasukkan Majza’ah ke dalam saluran di bawah tanah yang menyambungkan antara sungai dan Kota Tustar.

Saluran tersebut terkadang akan menjadi luas sehingga Majza’ah dapat berjalan dengan kedua kakinya. Namun terkadang ia menjadi sempit sehingga membuat Majza’ah harus berenang di dalamnya. Sungai tersebut terkadang bercabang dan meninggi, dan terkadang juga lurus.

Demikianlah perjalanan Majza’ah di bawah saluran air sehingga ia tiba di sebuah lubang yang menuju kota. Orang Persia tersebut memperlihatkan kepada Majza’ah Hurmuzan yang telah membunuh kakaknya dan tempat persembunyiannya.

Begitu Majza’ah melihat Hurmuzan, ia langsung ingin melesatkan anak panah ke leher Hurmuzan. Akan tetapi, ia teringat pesan Abu Musa kepadanya agar tidak melakukan apa-apa. Maka Majza’ah langsung menahan diri dan kembali melewati jalan yang ia lalui sebelum datangnya fajar.

Abu Musa lalu menyiapkan 300 orang pemberani, paling teguh dan cekatan dari pasukan Muslimin. Pasukan ini dipimpin oleh Majza’ah bin Tsaur yang dilepas dan diberi wasiat langsung oleh Abu Musa. Abu Musa kemudian meneriakkan takbir sebagai tanda seruan kepada pasukan Muslimin untuk menyerang kota Tustar.

Majza’ah memerintahkan pasukannya untuk mengenakan pakaian seringan mungkin agar tidak dirasuki air sehingga akan menyulitkan gerak mereka. Ia juga memperingatkan pasukannya agar tidak membawa apa-apa selain pedang dan mengikatkannya di bawah pakaian. Mereka pun berangkat pada sepertiga malam pertama.

***

Majza’ah dan pasukannya yang gagah berani mengarungi rintangan saluran air ini selama 2 jam berturut-turut. Terkadang mereka mampu mengarunginya dengan mudah dan kadang kala, air dalam saluran tersebut menyulitkan gerak mereka.

Saat mereka tiba di lubang saluran yang menuju kota, Majza’ah mendapati bahwa saluran air tersebut telah merenggut 220 orang dari pasukannya.

***

Begitu Majza’ah dan pasukannya menginjakkan kaki mereka di kota tersebut, mereka langsung menghunuskan pedang dan mengalahkan para penjaga benteng. Lalu mereka meletakkan pedang di atas dada mereka.

Kemudian mereka melompat ke arah gerbang lalu membukanya sambil meneriakkan takbir.

Takbir mereka yang berada di dalam benteng disambut dengan takbir para sahabatnya yang masih berada di luar.

Maka merangseklah pasukan Muslimin ke dalam kota Tustar saat fajar.

Lalu berkecamuklah perang yang hebat di antara mereka dan musuh-musuh Allah di mana jarang sekali terdapat dalam sejarah peperangan yang sehebat dan seganas serta yang paling banyak memakan korban seperti peperangan ini.

***

Saat peperangan berlangsung dengan sengitnya, Majza’ah bin Tsaur melihat Hurmuzan. Maka Majza’ah langsung menghampirinya dan melompat ke arahnya dengan menghunuskan pedang. Namun Majza’ah tidak dapat menangkapnya karena gelombang gerak yang ditimbulkan oleh para pasukan yang sedang bertempur membuat Majza’ah kehilangan pandangan. Kemudian Majza’ah sekali lagi melihat Hurmuzan, lalu ia segera datang ke arahnya.

Lalu Majza’ah dan Hurmuzan saling menyerang dengan pedang yang mereka bawa. Masing-masing mengibaskan pedang mereka dengan ganasnya. Namun pedang Majza’ah tidak mengenai sasaran, dan sebaliknya, Hurmuzan berhasil mengarahkan pedangnya.

Maka tersungkurlah patriot muslim yang berani di tengah medan laga. Hatinya tenang dengan janji Allah yang telah ia raih.

Pasukan Muslimin masih saja meneruskan peperangan, sehingga Allah SWT memberikan kemenangan kepada mereka. Akhirnya, Hurmuzan menjadi tawanan kaum Muslimin.

Pasukan Muslimin kembali ke Madinah al-Munawwarah dengan membawa kabar gembira penaklukan Persia kepada Umar bin Khattab. Mereka menggiring Hurmuzan yang mengenakan mahkota berhiaskan berlian, dan di pundaknya terdapat selendang sutra yang dijahit dengan benang emas. Mereka menggiringnya untuk dibawa menghadap kepada khalifah.

Meski demikian, mereka membawa kabar duka yang mendalam kepada khalifah tentang gugurnya pejuang mereka yang gagah berani yang bernama Majza’ah bin Tsaur.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Girlband, Hari Kemerdekaan, dan Penjajahan Baru

gaulislam edisi 512/tahun ke-10 (21 Dzulqa’dah 1438 H/ 14 Agustus 2017)

Assalamualaikum Bro and Sis yang in sya Allah muslim dan muslimah sejati. Tinggal hitung mundur nih, sampai HUT Kemerdekaan RI nanti. Biasanya udah rame dengan berbagai atribut khas, yakni merah putih. Ada juga yang menghias gapura dengan berbagai pernik menarik dan unik. Sepertinya semua masyarakat gembira. Lomba-lomba yang memeriahkan HUT kemerdekaan negeri ini juga sebagian sudah mulai digelar. Ya, walau pun kesannya sekadar merayakan saja, belum sampe ke taraf bersyukur. Kok bisa, sih? Lanjutkan aja bacanya yuuk…

HUT Kemerdekaan RI undang SNSD?

Sobat gaulislam, nggak mau kalah sama warganya yang bersemangat memeriahkan tanggal tujuh belas di Bulan Agustus ini. Pemerintah juga sibuk bikin serangkaian acara buat memeriahkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI yang katanya bakal berlangsung selama sebulan penuh! Wew, nggak kebayang betapa rame dan hebohnya.

Ngomong-ngomong soal itu, pasti bro and sis juga udah pernah denger berita yang bikin heboh itu, kan? Yup, yup, katanya di acara HUT ke-72 Kemerdekaan RI nanti bakal ngundang girlband Korea, SNSD! Jelas banget pemberitaan itu nimbulin pro-kontra dari masyarakat Indonesia. Bahkan sampai ada petisi di medsos yang minta supaya membatalkan mengundang SNSD. Petisinya bahkan diisi sama lebih dari tiga belas ribu lima ratus orang, loh! Wih, wih…

Wajar aja sih, kalo ada bro and sis yang nggak setuju sama pernyataan itu. Pasalnya, ini kan acara HUT RI. Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, gitu, loh. Kok bisa-bisanya nyempetin buat ngundang grup luar yang nggak ada sangkut pautnya sama Indonesia buat memeriahkannya. Kayak Indonesia keabisan para bro and sis yang kreatif aja, deh.

Belum lagi yang diundang sangat tidak mencontohkan budaya ketimuran Indonesia yang jauh dari pakaian terbuka apalagi gerakan tarian yang terkesan seksi. Apalagi kan, penduduk Indonesia itu mayoritas muslim. Masa iya, mau ngundang SNSD? Walaupun katanya SNSD udah tiga kali ke Indonesia, tapi bukan berarti bisa langsung diperkenankan gitu aja, dong. Apa kata Allah Ta’ala kalo hamba-Nya malah menghadiri acara dengan tamu undangan yang tidak mencontohkan identitas agamanya? Hadeuuh…

Walaupun gitu, dilansir dari berbagai sumber, nggak lama ini Badan Ekonomi Kreatif yaitu Triawan Munaf yang bilang akan mengundang SNSD ke acara HUT RI, langsung ngebantah. Katanya bukan di perayaan HUT RI, tapi di acara Hitung Mundur Asian Games 2018 yang akan dilaksanain tanggal 18 Agustus 2017 nanti. Yang bener yang mana, sih, jadinya? Padahal sudah jelas-jelas di beberapa pemberitaan media massa maisntream disebutkan akan mengundang.

Tapi kalo emang bener ngundang SNSD itu buat acara Hitung Mundur (Countdown) Asian Games 2018, kenapa malah dijawab sama Ketua Barekraf (Badan Ekonomi Kreatif), yah. Bukannya yang berhak ngejawab itu panitia Asian Games 2018 karena berpendapat kalo SNSD itu diundang untuk tampil di Countdown Asian Games 2018, bukannya HUT RI. Well, itu sedikit aneh, sih menurut aku. Menurut bro and sis sendiri, gimana?

Hiburan dan penjajahan modern

Sobat gaulislam, di medsos, sampai sekarang, masiiih aja rame soal perayaan HUT RI yang katanya bakal dilangsungin sebulan penuh. Belum lagi bakal ada Pameran Lukisan Koleksi Istana Kepresidenan di Galeri Nasional, macam-macam pentas seni, festival, karnaval, daaan…banyak lagi.

Pernah nggak sih, bro and sis kepikiran pertanyaan semacam, ‘kenapa pas HUT RI dari dulu sampai sekarang sering banget ditampilin kegiatan-kegiatan yang bertujuan buat ngehibur semata?’

Walaupun ada beberapa kegiatan dengan tema semacam pembinaan ideologi dan zikir bersama, tapi itu keliatannya cuma sebagai selipan aja. Kenapa? Karena cuma ada satu atau dua kegiatan doang yang diagendakan.

Heran deh, cuma ada satu dua aja yang diagendakan. Padahal agenda yang bertema ‘hiburan’ berkali-kali lebih banyak dan ada hampir setiaaap hari di Bulan Agustus ini. Belum lagi sampe ada panggung yang dibuat buat hura-hura dan seneng-seneng doang. Kalo misalnya SNSD jadi hadir buat meriahin juga, makin aneh, deh!

Menurut kamu, pantes apa nggak sih, acara resmi negara mengundang kayak begituan? Menurutku sih lebih pantes kalo HUT Kemerdekaan RI itu disyukuri dengan mengenang dan lebih mendalami perjuangan para pahlawan. Dan…lebih bagus lagi kalo ada kegiatan yang bisa bikin kita semua lebih semangat lagi buat berjuang melawan penjajahan di era modern kayak gini.

Dan, ngomong-ngomong soal pahlawan. Apa kabar yah, pada para veteran, pejuang yang melawan penjajah, yang sampai saat ini, alhamdulillah, bisa memiliki umur yang panjang  (walau pun mungkin sudah jarang ya, sebab setidaknya jika pada saat tahun 1945 ketika berjuang minimal usianya 15 tahun, sekarang usianya udah 87 tahun)? Berkesempatan melihat Indonesia setelah merdeka pasti sangat mereka syukuri. Secara, setelah habis-habisan bertarung, merencanakan strategi, mengumpulkan senjata, sembunyi-sembunyi dari penjajah, bahkan tetap berusaha kuat meski melihat teman seperjuangan tewas dan menguatkan diri meski nyawa menjadi taruhan. Mereka, para pahlawan yang hebat ini, terus berjuang sampai akhirnya meraih kemerdekaan Indonesia.

Walaupun nggak sesohor Ir Soekarno, Moh. Hatta, bahkan Pattimura sekalipun, para veteran yang masih hidup sampai sekarang, jelas, sangat layak diangkat namanya untuk dikenal oleh para pemuda Indonesia.

Artis tidak layak dijadikan idola

Sobat gaulislam, meski sebelumnya sudah pernah dibahas. Tapi aku nggak akan pernah bosen kalo diminta atau malah bisa membahasnya ulang. Tentang idola.

Ramenya pro-kontra tentang rencana kedatangan SNSD ke Indonesia sangat jelas menyatakan kalau, masih banyak di antara kamu yang mengidolakan artis dan sejenisnya. Bahkan ketika SNSD ini dicap sebagai ‘simbol seks dan pelacuran’ yang banyak dikicaukan para pengguna medsos. Eh, banyak tuh remaja yang mengidolakan SNSD langsung unjuk pendapat buat ngebela idolanya ini.

Band asal Korea SNSD (Sonyeo Sideo) merupakan sebuah grup band yang semua membernya perempuan. Kalau searching di Mbah Google, pasti langsung dapet foto-foto mereka yang jelas sangat berlawanan dengan karakter seorang muslimah yang sesungguhnya. Dari segi pakaian, gerakan saat dance yang vulgar, sampai attitudemereka yang jauh dari Islami. Jelaslah, mereka orang kafir.

Pasalnya, tidak hanya SNSD yang bikin kamu mencap diri sebagai fans. Tapi banyak artis yang bisa membuat kamu mencap sebagai fans mereka, baik itu dari Korea, Jepang, Hollywood, India, bahkan Indonesia sendiri. Padahal tidak seharusnya artis-artis atau sejenisnya itu layak kita idolakan. Kenapa?

Oya, seorang muslim haruslah memiliki karakter muslim sejati. Selain dari segi berpakaian, cara berpikir kita juga harus mencontohkan sebagai seorang muslim dan muslimah sejati. Muslim dan muslimah sejati, pastinya tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar perintah Allah Ta’ala.

Ya, Allah Ta’ala jelas memberi perintah agar para muslim dan muslimah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai panutan. Sebagai idola. Islam sudah memiliki idola yang merupaka sebaik-baiknya manusia di bumi. Jadi untuk apalagi kita mengidolakan selain dari itu? Yang tidak hanya jauh dari karakter seorang muslim, tapi juga bisa menjauhkan kita dari Allah Ta’ala.

Penjajah modern

Sobat gaulislam, masa penjajahan yang memperebutkan kemerdekaan udah lewat bertahun-tahun yang lalu. Indonesia sekarang sudah merdeka, dan lepas dari perbudakan-perbudakan. Tapi era modern datang membawa penjajah baru ke Negara Indonesia. Lewat budayanya, era modern masuk ke Indonesia dengan menyembunyikan status mereka sebagai penjajah. Dan malah menyebut diri mereka sendiri sebagai gaya baru di dunia yang baru pula.

Padahal sebenarnya, mereka itulah penjajah sebenarnya yang harus kita harus lawan. Kenapa? Coba kamu perhatiin deh, perkembangan dunia modern saat ini yang baik itu fashion, makanan sampai artis-artis yang dijadikan idola. Banyak banget yang terpengaruh khususnya yang masih remaja. Mereka terpengaruh sama budaya-budaya Korea, Amerika, Jepang, China, Thailand daaan… masih banyak lagi.

Kalo misalnya kamu gampang terpengaruh sama budaya-budaya luar, budaya negeri ini bakalan tergeser dengan sendirinya. Soalnya pemudanya lebih milih budaya luar hanya karena tren, ikut-ikutan, atau alasan nggak masuk akal lainnya. Tapi dengan catatan lho, budaya negeri ini pun wajib yang sesuai dengan Islam. Kalo nggak sesuai dengan Islam, kamu sebagai muslim tetap wajib menolak meski itu budaya lokal negeri ini.

Belum lagi udah beberapa minggu ini lagu despacito yang isinya parah masih aja viral. Padahal udah banyak blog-blog yang memposting arti lirik lagu despacito ini. Baik dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia. Dan itu jelas sekali berlawanan dengan kebudayaan timur (apalagi dengan Islam). Tapi kenapa masiiih aja ada yang menyanyikannya?

Penjajahan gaya baru emang nggak kerasa bikin menderita karena yang diserang bukan fisik, tapi pikiran dan perasaan kita. Bangsa yang kalah dari bangsa lain bukan saja karena tertindas secara fisik, tapi lebih parah ketika digilas pemikiran dan perasaannya. Kita bisa saja masih muslim, tapi pikiran dan perasaan kita jauh dari Islam. Nah, kondisi seperti itu berarti kita udah dijajah oleh pikiran dan perasaan yang nggak islami itu, Bro en Sis.

Selain dijajah secara pikiran, perasaan, budaya, ternyata kita juga secara ekonomi dan hukum dijajah lho. Penjajah sekarang pinter-pinter, selama rakyat negeri ini nggak berontak ketika dijajah secara budaya dan ekonomi serta politik, ya nggak perlu ngelepas tentara mereka untuk berperang. Terlalu banyak biaya yang dikeluarkan. Kalo menjajah secara ekonomi dan kedaulatan (politik) sih, kasih aja utang, jadi terjerat deh. Buktinya, negeri kita belum merdeka dari cekikan utang luar negeri yang membubung tinggi hingga lebih dari 4 ribu triliun rupiah. Mengerikan!

Udah dulu ya. Salam semangat untuk melawan penjajah era modern.

[Zadia “willyaaziza” Mardha]

Abdullah bin Ummi Maktum

“Manusia buta yang Allah turunkan 16 ayat yang berkenaan tentang dirinya. Ayat-ayat tersebut senantiasa dibaca dan diulang-ulang terus.” –Para ahli tafsir

Siapakah orang yang telah membuat Nabi mendapatkan teguran dari langit dan telah membuat beliau gelisah?!

Siapakah orang yang telah membuat Jibril al-Amin turun dari langit untuk menyampaikan kepada Nabi SAW tentang sebuah wahyu yang berkenaan dengan dirinya?!

Dialah Abdullah bin Ummi Maktum yang menjadi muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) Rasulullah SAW.

***

Abdullah bin Ummi Maktum adalah seorang penduduk asli Makkah berkebangsaan Quraisy yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Rasulullah. Dia adalah sepupu Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid RA. Ayahnya bernama Qais bin Zaidah. Ibunya bernama ‘Atikah binti Abdullah. Ia dipanggil dengan sebutan Ummu Maktum sebab saat ibunya melahirkan ia sebagai anak yang buta, ibunya melahirkannya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui orang.

***

Abdullah bin Ummi Maktum menyaksikan terbitnya sebuah cahaya di Makkah. Maka Allah SWT melapangkan dadanya untuk menerima iman. Dia termasuk orang pertama yang masuk Islam.

Ibnu Ummi Maktum menjalani segala ujian yang dirasakan dan diderita oleh kaum Muslimin di Makkah dengan segala pengorbanan, keteguhan dan kesabaran.

Ia merasakan siksaan Bangsa Quraisy sebagaimana yang dialami oleh sahabatnya yang lain. Ia merasakan kebengisan dan kekejaman yang mereka lakukan. Meski demikian, ia tidak pernah beringsut dan tidak pernah patah semangat. Imannya tidak akan goyah.

Imannya mampu sedemikian karena ia berpegang teguh dengan ajaran agama Allah, senantiasa berpegang dengan Kitabullah, mempelajari dengan baik syariat Allah dan selalu datang serta bergaul dengan Rasulullah SAW.

***

Ia begitu seringnya mendampingi Rasulullah dan begitu hafal akan Alquran hingga ia tidak pernah melewatkan satu kesempatan pun untuk bersamanya, dan apabila ada kesempatan untuk melakukan itu, maka pasti dia menjadi yang pertama melakukannya.

Bahkan keinginannya untuk melakukan hal ini membuat ia berkeinginan untuk mendapatkan jatah bagiannya dan jatah orang lain untuk dirinya agar ia bisa mendampingi Rasulullah dan mempelajari Alquran sebanyak-banyaknya.

Pada masa-masa itu, Rasulullah seringkali melakukan pertemuan dengan para pemuka Quraisy karena berharap mereka berkenan untuk masuk Islam. Suatu hari, mereka berjumpa dengan Utbah bin Rabi’ah dan saudaranya yang bernama Syaibah bin Rabi’ah. Turut bersama keduanya adalah Amr bin Hisyam yang dikenal dengan Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf dan Walid bin al-Mughirah, orang tua Khalid bin Walid. Rasul melakukan pembicaraan kepada mereka, mengajak mereka serta memperkenalkan Islam kepadanya. Rasul amat berharap agar mereka mau menerima penawarannya atau menghentikan penyiksaan yang mereka lakukan terhadap para sahabat Rasul SAW.

***

Saat Rasulullah SAW sedang mengadakan pembicaraan dengan mereka, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Ummi Maktum yang meminta Rasul untuk membacakan ayat-ayat Kitabullah kepadanya. Ia berkata, “Ya Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu!”

Rasulullah SAW lalu berpaling darinya, dan membuang wajahnya dari Ibnu Ummi Maktum. Beliau terus melanjutkan pembicaraan dengan para pembesar Quraisy tadi. Rasulullah masih berharap agar mereka mau menerima Islam, sehingga dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam maka agama ini akan semakin kokoh, dan dapat mendukung dakwahnya.

Begitu Rasulullah SAW selesai mengadakan pembicaraan dengan mereka, beliau hendak kembali ke rumah. Tiba-tiba Allah membuat mata beliau menjadi kabur sehingga beliau merasa pusing. Lalu turunlah beberapa ayat kepada beliau.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa: 1-16)

16 ayat yang dibawa turun oleh Malaikat Jibril ke hati Rasulullah tentang Abdullah bin Ummi Maktum, 16 ayat tersebut senantiasa dibaca sejak diturunkan hingga hari ini. Dan akan terus dibaca manusia sehingga Allah mengakhiri riwayat bumi ini.

***

Sejak saat itu, Rasulullah senantiasa memuliakan Abdullah bin Ummi Maktum ketika ia datang dan singgah di majelis Rasulullah. Beliau juga senantiasa menanyakan kondisi Abdullah dan memenuhi segala kebutuhannya.

Hal ini tidak mengherankan, sebab karena Abdullah bin Ummi Maktum lah Rasulullah SAW mendapatkan teguran dari Allah SWT.

***

Begitu kaum Quraisy semakin menggencarkan usaha mereka dalam menganiaya Rasul dan para pengikutnya, maka Rasulullah SAW mengizinkan kaum Muslimin untuk berhijrah. Abdullah bin Ummi Maktum menjadi orang yang paling cepat meninggalkan tanah airnya dan berlari menyelamatkan agama.

Dia dan Mus’ab bin Umair adalah orang pertama dari para sahabat Rasulullah yang tiba di Madinah.

Di Yastrib, Abdullah bin Ummi Maktum dan sahabatnya selalu membacakan dan megulang-ulang Alquran kepada semua penduduk Madinah. Mereka berdua mengajarkan kepada penduduk Madinah ilmu tentang agama Allah.

Saat Rasulullah SAW tiba di Madinah, ia menjadikan Abdullah bin Ummi Maktum dan Bilal bin Rabah sebagai dua orang muadzin yang menyerukan kalimat setiap hari sebanyak lima kali. Keduanya diperintahkan untuk menyeru manusia mengerjakan amal terbaik dan meraih keberuntungan.

Maka terkadang Bilal yang melakukan adzan dan Ibnu Ummi Maktum yang membacakan iqamat. Terkadang juga Ibnu Ummi Maktum yang adzan, dan Bilal yang beriqamat.

Bilal dan Ibnu Ummi Maktum juga memiliki tugas lain saat bulan Ramadhan. Kaum Muslimin Madinah akan melakukan sahur apabila salah seorang dari mereka melakukan adzan, dan mereka akan berimsak saat satunya lagi mengumandangkan adzan kedua.

Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan pada malam hari untuk membangunkan manusia. Sedangkan Ibnu Ummi Maktum bertugas untuk memperhatikan datangnya fajar, dan ia tidak pernah keliru melakukannya.

Rasulullah begitu memuliakan Ibnu Ummi Maktum sehingga pernah beliau mengangkat Ibnu Ummi Maktum sebagai penggantinya untuk menjaga Madinah lebih dari 10 kali, salah satunya adalah saat Rasulullah berangkat untuk menaklukkan kota Makkah.

***

Setelah usai Perang Badar, Allah menurunkan beberapa ayat Alquran yang memuji para mujahidin, dan memuliakan orang yang berjihad daripada orang yang tidak berangkat agar memberikan stimulasi kepada para mujahid tadi, dan mengecam orang yang tidak berangkat. Hal itu membuat Ibnu Ummi Maktum menjadi kecil hati karena tidak bisa mendapatkan kemuliaan ini. Ia pun berkata, “Ya Rasulullah, bila aku mampu berjihad, maka pasti aku akan melakukannya.” Kemudian Abdullah bin Ummi Maktum berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyuk agar ia berkenan menurunkan ayat tentang orang sepertinya yang kekurangan dirinya menghalangi mereka untuk melakukan jihad. Ia berdoa dengan begitu khusyuknya, “Ya Allah, turunkanlah ayat atas ketidakmampuanku…. Ya Allah, turunkanlah ayat atas ketidakmampuanku!”

Maka Allah dengan begitu cepatnya langsung menjawab doa Abdullah bin Ummi Maktum.

***

Zaid bin Tsabit, penulis wahyu bagi Rasulullah SAW dan beliau tiba-tiba hilang kesadaran. Maka paha beliau ditaruh di atas pahaku. Aku belum pernah merasakan ada paha yang seberat paha Rasulullah. Kemudian beliau tersadarkan sebentar, lalu bersabda, “Tuliskan, ya Zaid!” Maka aku pun menuliskan, “Tidak sama orang Mukmin yang duduk (tidak berangkat) dengan orang yang berjuang di jalan Allah….”

Lalu Ibnu Ummi Maktum berdiri seraya berkata, “Bagaimana dengan orang yang tidak mampu berjihad?” Belum juga ia usai meneruskan ucapannya, maka Rasulullah SAW hilang kesadaran lagi. Lalu pahanya diletakkan di pahaku. Maka aku merasakan berat yang sama pada saat ketika pertama kali. Kemudian ia tersadarkan diri, lalu bersabda, “Bacakanlah apa yang telah kau tulis, ya Zaid!” Aku pun membacakan, “Tidak sama orang Mukmin yang duduk….” Lalu beliau bersabda, “Tuliskan, ‘Selain orang yang memiliki uzur….”

Maka turunlah pengecualian sebagaimana yang diharapkan oleh Abdullah bin Ummi Maktum.

Meski Allah SWT telah memberikan maaf kepada Abdullah bin Ummi Maktum dan kepada orang-orang yang sepertinya dalam berjihad, namun ia tidak rela membiarkan dirinya berdiam diri dengan orang-orang yang tidak berangkat. Ia malah bertekad untuk berjihad di jalan Allah SWT.

Hal itu dikarenakan jiwa yang besar tidak akan pernah puas kecuali apabila melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar.

Sejak saat itu ia bertekad tidak akan pernah ketinggalan perang. Ia telah menentukan tugasnya sendiri di medan peperangan. Ia berseru, “Tempatkan aku di antara dua barisan dan berikan kepadaku panji agar aku yang membawanya dan menjaganya untuk kalian! Sebab aku buta dan tidak mampu berlari.”

***

Pada tahun 14 H, Umar bertekad untuk menyerang Persia dengan sebuah peperangan yang dapat mengalahkan mereka, meruntuhkan kerajaan Persia dan membuka jalan bagi tentara Muslimin. Ia menuliskan sebuah surat kepada para pembantunya yang berbunyi:

“Jika ada orang yang memiliki senjata, kuda, pertolongan atau pendapat, maka pilihlah mereka dan bawalah mereka menghadapku! Segera!”

Maka kaum Muslimin memenuhi panggilan Umar al-Faruq, dan mereka berdatangan ke Madinah sehingga memenuhi semua penjurunya. Salah seorang dari mereka adalah seorang buta yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum.

Umar RA menunjuk pemimpin pasukan besar ini adalah Sa’ad bin Abi Waqqash. Sebelum berangkat Umar memberikan wasiatnya kepada pasukan Muslimin, kemudian melepas mereka.

Begitu pasukan ini tiba di Al-Qadisiyah, Abdullah bin Ummi Maktum mengenakan baju besinya juga perlengkapan perang lainnya. Ia rela membawakan panji kaum Muslimin dan berjanji untuk menjaganya hingga mati.

***

Kedua pasukan bertemu dan berperang selama tiga hari dengan begitu hebatnya. Keduanya saling menyerang dengan sangat dahsyat sehingga belum pernah ada sejarah penaklukkan yang dialami kaum Muslimin sehebat ini. Sehingga pada hari ketiga kaum Muslimin mendapatkan kemenangan telak. Maka jatuhlah sebuah bangsa yang begitu besar saat itu, dan dikibarkanlah panji Tauhid di negeri berhala. Dan sebagai harga pembelian kemenangan ini, gugurlah ratusan syahid dan salah satu dari para syuhada itu adalah Abdullah bin Ummi Maktum. Ia ditemukan telah gugur dengan berlumuran darah dan ia masih menggenggam panji pasukan Muslimin.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

Anak dan Kenakalan Orangtua

gaulislam edisi 511/tahun ke-10 (14 Dzulqa’dah 1438 H/ 7 Agustus 2017)

Waduh! Emang ada ortu yang nakal ya? Kalo di cerita Pendekar Pemanah Rajawali sih ada, namanya Ciu Pek Tong (dikenal sebagai Bocah Tua Nakal), salah satu gurunya Kwee Ceng. Jiahaha, itu sih dalam cerita fiksi, dong (lagian kurang nyambung dengan tema ini, hehe..). Kalo dalam kenyataan ada nggak? Banyak! Jujur aja nih, sebenarnya kalo mau fair ngelihat aksi ortu dalam keluarga kita, atau keluarga besar kita rasanya perlu juga kita jembrengin. Ya, siapa tahu para orangtua kita juga akhirnya nyadar supaya jangan selalu menyalahkan seratus persen bahwa kenakalan remaja itu akibat kita nggak taat, kita nggak nurut sama ortu. Sebab, seringkali ortu dalam keluarga dan ikatan keluarga besar justru mengajarkan kenakalan yang akhirnya lambat-laun kita ikuti. Tapi, tentu saja nggak semua ortu nakal, sebagaimana nggak semua remaja tuh nakal. Betul nggak?

Apa sih yang dilakukan ortu kita di rumah dan keluarga besar kita sehingga bisa disebut kenakalan orangtua?

Seputar akhlak

Sobat gaulislam, pertama kita lihat dari sisi akhlak. Kok bisa? Bener lho. Entah apakah karena terlalu sibuk atau nggak ngerti harus berbuat, banyak ortu di rumah yang abai dalam soal akhlak Islam yang baik ini. Padahal, anak or kita-kita akan belajar pertama kali dari cara ortu, karena begitu dekatnya jarak antara kita dengan ortu.

Oya, akhlak ini adalah sifat yang harus dimiliki setiap muslim. Sebab, secara etimologis atau bahasa (lughatan) akhlaaq (bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Secara terminoligis (ishtilaahan) ada beberapa definisi. Misalnya menurut Imam al-Ghazali, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara menurut Abdul Karim Zaidan, akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya (Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A.,Kuliah Akhlaq, hlm. 1-2)

Oya, definisi yang agak mudah dipahami dan sesuai fakta adalah yang saya dapetin nih pendapatnya Muhammad Husain Abdullah (Dalam bukunya, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm 100), disebutkan bahwa secara bahasa akhlaq berasal dari kata al-khuluq yang berarti kebiasaan (as-sajiyah) dan tabiat (at-thab’u). Sedangkan menurut istilah (makna syara’) akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan Allah kepada seorang muslim untuk dimiliki tatkala ia melaksanakan berbagai aktivitasnya. Sifat-sifat akhlak ini tampak pada diri seorang muslim tatkala dia melaksanakan berbagai aktivitas—seperti ibadah, mu’amalah, dan lain sebagainya. Tentu, jika semua aktivitas itu ia lakukan secara benar sesuai tuntunan syariat.

Intinya nih, akhlak bukan semata sifat moral, tapi emang perintah dari Allah Ta’ala. Itu sebabnya, ada penjelasan bahwa harus dilakukan dengan cara yang benar sesuai perintah Allah Ta’ala. Dengan kata lain, jika ada orang yang jujur, sopan-santun, bertutur kata yang baik, tapi semua itu tidak sesuai dengan ajaran Islam dan perintah Allah Ta’ala maka nggak diterima amalannya. Contoh mudahnya, apa yang dilakukan oleh orang yang nggak beriman kepada Allah Ta’ala, perbuatan mereka sia-sia dilihat dari segi amalannya.

Nah, para ortu kita di rumah nggak semuanya ngerti soal ini. Bukan kita ngeledekin or ngejelek-jelekin, tapi emang faktanya ada yang begitu. Dalam hubungan dengan tetangga saja, banyak ortu yang malah secara tidak langsung ngajarin anak-anaknya untuk nggak baik dengan tetangga. Misalnya, kelakuan ortu yang doyan berantem ama tetangga atau yang kasuk-kusuk ngomongin tetangga. Eh, tetangga yang digosipin nggak suka, akhirnya nggak jarang terjadilah adu mulut sampe adu otot. Teman saya pernah jadi ketua RT dan ia sering dipusingkan dengan salah seorang warganya dari kalangan emak-emak yang doyan berantem dan nyari musuh dengan tetangga sendiri. Coba, kalo anak-anaknya sampe tahu gimana? Mungkin ada anaknya yang malu. Tapi nggak sedikit juga anak yang kemudian malah terinspirasi dengan kenakalan orangtuanya tersebut. Waktu saya di kampung dulu, ada orangtua yang suka ikut ngomporin anaknya untuk berantem dengan temannya. Kata-kata penyemangat yang sebenarnya lebih terasa hasutan dihembuskan, “Kamu jangan mau kalah sama dia. Lawan!”, misalnya.

Akibatnya, memang anak-anak di satu keluarga itu akhirnya jadi belagu dan sering nyebelin kalo bergaul, juga kerap berbuat onar karena merasa ada legalitas secara tidak tertulis dari ortunya itu. Jadi, merasa pasti ada yang bakal ngebelain mereka, gitu lho.

Duh, kacau banget kan? Model ortu dalam keluarga yang kayak gitu nggak baik buat perkembangan anak-anaknya. Sebab, dalam hal akhlak bertetangga dan bergaul aja malah ngajarin nggak benar. Padahal, kita bertetangga dengan baik tuh bagian dari ajaran Islam. Oya, selain diminta berbuat baik, kita juga dilarang mengganggu tetangga kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR Muslim)

Ya, kita yakin ortu yang berbuat begitu memang ada alasannya. Yang paling mungkin adalah karena mereka ingin melindungi anak-anaknya. Cuma, caranya aja yang kurang atau malah nggak tepat. Tapi semoga saja ortu yang begini rupa nggak banyak. Ini sekadar satu contoh lho. Belum lagi soal ucapan, nggak jarang ortu yang ngeluarin kata-kata kasar dan kesannya jorok abis kalo kesel ama anak-anaknya pas marah. Waspadalah para ortu, sebab anak-anak akan meniru apa yang ortunya lakukan.

Ortu yang rada gengsi untuk meminta maaf ketika ia salah juga akan memberikan dampak buruk kepada anak-anaknya. Kesan yang paling mudah ditangkap sama anak adalah bahwa ortu tuh digambarkan susah untuk mengalah dan sekadar meminta maaf meski udah jelas berbuat salah. Misalnya aja kalo diskusi suka pengen menang sendiri. Mungkin awalnya malu kalo sampe kalah sama anaknya. Tapi, itu menjadi blunder karena anak akan menilai bahwa sikap ortu yang kayak gitu tuh nggak benar. Kalo anaknya yang kritis dan berani mungkin akan mengingatkan. Tapi, bagi anak yang nggak bisa komunikasi dengan baik, bukan mustahil kalo akhirnya antipati dan justru melakukan hal yang sama dengan ortunya. Apalagi ia merasa kalo kemudian kelakuannya ditegur sama ortunya, ia akan balik menegur dan menyalahkan ortunya (karena ortunya juga udah melakukan hal yang sama sebelumnya). Waduh, jadi tambah ribet kan?

Mengabaikan pelaksanaan syariat

Sobat gaulislam, kenakalan kedua nih, shalat. Ya, urusan shalat seringkali jadi masalah. Pelaksanaan syariat untuk individu ini acapkali diabaikan. Kalo ortunya aja sholatnya sesukanya, atau bahkan nggak sama sekali, akan menimbulkan dampak bagi anak. Apalagi jika menyuruh atau mengingatkan anaknya saja untuk sholat nggak pernah. Wah, mungkin nggak adil juga kalo di kemudian hari nyalahin anak yang nggak sholat. Wong, orangtuanya aja nggak sholat dan nggak membimbing anaknya untuk sholat. Kasihan juga kan?

Padahal, sejak awal tuh sebenarnya bisa dilakukan. Kadang nggak perlu ceramah berbusa-busa dari ortunya untuk mengajak anak-anaknya sholat. Cukup dengan teladan. Misalnya aja, kalo pas azan maghrib, ketika anak nonton televisi langsung diberitahukan singkat bahwa sudah masuk waktu sholat maghrib, tolong di-off-kan dulu tivinya, langsung wudhu dan barengan melaksanakan sholat maghrib. Insya Allah dengan pembiasaan seperti itu akan membekas pada anak.

Jadi, bukan cuma nyuruh-nyuruh doang tapi ia sendiri nggak melakukan dan mencontohkan kepada anak. Padahal, anak butuh teladan dari orangtuanya. Sekaligus tentunya anak akan menilai tentang kesesuaian antara ucapan dan perilaku ortunya. Kalo nggak match alias kagak nyambung, mungkin jangan nyalahin seratus persen kepada anak kalo akhirnya anak jadi ngeledekin ortunya.

Suer nih, bahwa anak-anak adalah cermin bagi orangtua. Bagaimana orangtuanya, begitulah anaknya. Like father, like sons. Saat kita sebagai orang tua menatap mata anak kita, mengamati bentuk hidungnya, cara berjalannya dan gaya bicaranya, kita akan temukan diri kita sebagai ortunya pada anak-anak kita. Maka bila ortu kepengen nggak dipermalukan di depan orang lain oleh tingkah polah anak-anak, berarti sebagai ortu pun jangan berbuat hal yang memalukan di depan anak-anak kita sendiri. Ini pesan buat kita para orangtua (soalnya saya yang nulis juga punya anak kelas 2 SMA).

Oya, dari sisi kita sebagai anak, mungkin kita bisa mengingatkan kepada para orangtua yang ada saat ini bahwa pelaksanaan syariat yang lemah dalam kehidupan ortu di rumah sebagai keluarga dan keluarga besar juga lambat-laun akan berpengaruh kepada kita-kita sebagai anak-anaknya. Dalam soal berbusana saja, banyak di antara ortu kita (khususnya yang belum ngerti tuntunan syariat) yang mendandani kita dengan pakaian yang nggak benar dan nggak baik. Kita sih dulu nggak berpikir kalo berpakaian itu ada aturannya apa nggak. Pokoknya pake. Atau mungkin adik-adik kita saat ini, mereka nggak mafhum juga kalo berpakaian itu ada batasannya. Kapan boleh harus berpakaian menutup aurat, kapan dan di mana aurat tidak harus ditutupi.

Pengetahuan dalam hal pelaksanaan syariat untuk individu saja, khususnya berpakaian, seringkali terabaikan oleh para orangtua. Kenakalan ortu yang (mungkin saja) tidak disengaja ini bisa membentuk karakter kita dan sudut pandang kita dalam melihat berbagai masalah. Wajar dong kalo kemudian banyak di antara temen cewek kita yang sulit dikasih tahu tentang wajibnya berjilbab kalo keluar rumah atau ada orang asing (bukan mahram) yang berkunjung ke rumahnya. Karena merasa berkerudung dan berjilbab tuh kalo mo ke tempat pengajian aja. Duh, menyedihkan banget deh. Dan, itu sebagian dari kita pernah merasakannya. Itu sebabnya, kita memohon kepada orangtua untuk membina kita sebagai anak-anaknya dengan pembinaan yang benar dan baik sesuai tuntunan syariat Islam.

Ini baru soal sholat dan berbusana lho (dan kebetulan memang ini yang lebih menonjol masalahnya). Kayaknya masih banyak deh pelaksanaan syariat Islam yang belum dibiasakan di tengah keluarga oleh para orangtua. Misalnya tentang kewajiban menuntut ilmu agama. Itu kan bagian dari kewajiban yang harus ditunaikan juga. Seringkali kita dapati orangtua justru menggeber anak-anaknya untuk belajar ilmu-ilmu umum seperti matematika, kimia, fisika, bahasa Inggris dan sejenisnya.

Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Bukan nggak boleh belajar ilmu umum, lho. Silakan saja jika mampu. Tapi seharusnya ortu juga mendorong anak-anaknya untuk belajar Islam secara maksimal. Dalam hal ini seringkali abai, gitu lho. Bahkan kebanyakan dari orangtua lebih ngerasa bangga kalo anaknya tuh pinter matematika, fisika, kimia, bahasa Inggris. Bangga dalam hal itu boleh aja, tapi jangan sampe kemudian melupakan kebanggaan yang lebih baik yakni kalo anaknya bisa ngaji, bisa baca al-Quran, dan rajin dakwahnya. Tapi sekarang lebih menyedihkan lagi ketika banyak orangtua yang merasa lebih bangga jika anaknya pinter nyanyi dan juara kontes di ajang unjuk bakat dan ajang sejenisnya. Bahkan ada orangtua yang gigih mengarahkan dan memfasilitasi anak-anaknya untuk bisa ikutan di ajang begituan. Duh, bentuk kenakalan orangtua yang seperti ini bisa mengantarkan anak-anaknya untuk permisif dan hedonis. Oya, nggak semua orangtua begini, tapi itu umumnya memang demikian. Nelangsa banget deh kita-kita sebagai anak. Tapi bagi kita yang ortunya udah ngarahin kita ke jalan kebenaran Islam, bersyukurlah.

Yuk, kita sadar diri, bentengi diri dengan ajaran Islam, sambil mencoba mengajak ortu kita agar juga taat agama. Supaya masuk surga sekeluarga. Bukan sebaliknya. Stop kenakalan ortu, agar kenakalan anak tak begitu saja terjadi.

[O. Solihin | Twitter @osolihin]