Jadilah Remaja Berdaya!

gaulislam edisi 508/tahun ke-10 (23 Syawwal 1438 H/ 17 Juli 2017)


Sobat muda pembaca gaulislam, kalo kamu cermati, menurut kamu, berapa banyak sih kira-kira remaja yang ngerokok?

Kalo menurut pengamatan saya, jawabannya adalah nggak sedikit. Nggak hanya remaja cowok, bahkan remaja cewek pun ada. Parahnya, nggak cuma remaja, bahkan anak SD ada pula yang ikutan ngerokok.

Pertanyaannya adalah, duit yang dipake untuk ngerokok itu dari mana? Bisa dipastikan, bahwa duitnya adalah hasil dari minta-minta ke orangtua mereka. Minta-minta, yang ujungnya bukan dimanfaatkan untuk sesuatu yang bermanfaat, namun malah disia-siakan untuk hal-hal yang tiada guna.

Tidak hanya terkait rokok, remaja labil biasanya juga menghamburkan uang orangtua untuk main game online di warnet, modal buat pacaran, hingga hal-hal yang jelas menuai dosa, semisal untuk membeli narkoba, miras, dan berjudi. Naudzubillah.

Padahal kawan, bermain game online sungguh berpotensi besar ngerebut waktu-waktu potensial masa mudamu, yang harusnya digunakan untuk belajar dengan baik. Jika kamu sudah kecanduan sama game online (juga game offline), maka kamu tidak akan sempat lagi belajar, mengulang pelajaran yang telah dipelajari di sekolah. Akibatnya, kamu bisa saja tertinggal dengan teman-teman yang lain. Nilai kamu di rapor bisa saja pada merah-merah, hingga membuat ortumu marah-marah.

Pacaran, nah ini juga penyakit anak muda zaman sekarang. Jangan dikata pacaran itu nggak perlu modal, lho. Dua-duanya, baik itu si cewek maupun si cowok, juga butuh modal tuh. Bagi si cewek, setidaknya dia akan membeli barang-barang yang membuatnya bisa tampil lebih cantik di depan si cowok. Bagi si cowok, biasanya adalah pihak yang paling banyak ngeluarin duit, terutama, biasanya pas tiap malam Minggu saat wakuncar alias waktu kunjung pacar. Duitnya dari mana? Dari mana lagi kalo nggak merengek, minta-minta sama ortu. Jadinya, anaknya yang bergaya, orangtuanya yang susah. Memalukan!

Padahal, hukum pacaran itu sendiri di dalam Islam nggak boleh, lho. Kenapa nggak boleh? Ya gimana, lha wong pacaran itu semua aktivitasnya adalah aktivitas suami-istri, seperti rayu-rayuan, pegang-pegangan, cumbu-cumbuan, dan seterusnya. Padahal, si cowok dan si cewek bukan suami istri. Ingat, berdosa! Jika kamu nggak cepetan bertobat, bisa-bisa kamu berpeluang besar masuk neraka. Ngeri, kan?

Apalagi jika kamu sampai menggunakan duit hasil minta-minta ke ortu untuk membeli narkoba, miras, atau untuk main judi. Sungguh, itu adalah sebuah pengkhianatan besar yang kamu lakukan terhadap ortumu. Allah Ta’ala nggak akan tinggal diam melihat pengkhianatan ini. Semuanya akan dibalas dengan setimpal, cepat atau lambat.

Remaja smart finansial

Sungguh, saya sangat terkesan sekali dengan para remaja jenis ini, yakni mereka yang berdiri dengan penuh kehormatan. Mereka yang malu meminta-minta meskipun kepada ortu sendiri. Dikasih, alhamdulillah, mereka nggak menolak karena itu pemberian. Nggak dikasih, juga tak mengapa, karena tanpa dikasih sama ortu pun, mereka masih bisa berdiri dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Dengan segenap semangat untuk membentengi uang yang mereka punya agar nggak keluar untuk sesuatu yang percuma bahkan menuai dosa. Lebih-lebih lagi, berusaha memutar uang yang dimiliki di sektor halal sehingga berkembang.

Apakah remaja jenis ini ada? Jelas ada. Di antaranya saya seringkali melihat mereka berjibaku di bawah terik matahari, di persimpangan-persimpangan jalan, juga di terminal-terminal. Mereka ngasong, menjual barang-barang yang nampaknya remeh temeh; tisu, air mineral, permen, dan lain sebagainya. Namun percayalah, pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan remeh temeh. Boleh jadi, hasil mereka ngasong nggak hanya dipakai untuk kepentingan diri pribadi, melainkan juga untuk meringankan beban ekonomi keluarga.

Ada juga kasus saya temui, seorang remaja menunda untuk kuliah karena tidak mau menyusahkan ortunya. Dia memilih bekerja, guna melanjutkan kuliahnya dengan biaya sendiri. Kuliah pun dilakukannya sambil bekerja, sambil mencoba peruntungan lain dengan menggagas beberapa usaha kecil.

Fakta mengagumkan lain ada pada seseorang bernama Sebastian Martinez. Betapa ia sudah menjadi pengusaha bahkan sejak usia 7 tahun. Bisnis kaos kaki, yang mana dia sendiri yang mendesainnya, telah menorehkan nominal pendapatan mencapai USS 15.000 atau setara dengan Rp. 207.000.000,-

Martinez juga menyisihkan pendapatannya yang besar itu untuk berbagi, menebar manfaat buat sesama. Ia bekerjasama dengan beberapa lembaga untuk membantu anak-anak penderita kanker. Ia bahkan menyumbangkan 25 persen dari pendapatannya untuk membantu anak-anak lain yang berjuang menghadapi penyakit-penyakit serius.

Sobat gaulislam, penting untuk disadari bahwa tidak semua dari orangtua kita mudah di dalam mencari uang. Kondisi Indonesia, di mana penduduknya lebih banyak berada di bawah garis kemiskinan, tak pelak, membuat perjuangan guna mendapatkan uang, menjelma menjadi sebuah aktivitas yang melelahkan fisik dan mental. Pergi pagi, pulang sore, yang didapat pun kadang tak seberapa. Lalu, dengan seenaknya kita menghamburkan begitu saja uang yang telah diperoleh dengan susah payah itu untuk hal-hal yang bisa menyakiti hati mereka para orangtua kita.

Maka janganlah seolah kita tersenyum, atau menari di atas penderitaan orangtua kita. Alangkah eloknya, meskipun kita misalnya belum mampu untuk cari uang sendiri, uang pemberian orangtua dihemat, atau kalo ada lebihnya, ditabung untuk kebutuhan-kebutuhan yang akan datang di masa depan.

Saya yakin sekali, bagi remaja yang belum pernah mengalami, atau merenungkan betapa susahnya mencari uang, mereka nggak akan pernah banyak pertimbangan untuk menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tiada guna.

Maka penting sekali, meskipun seandainya kamu berasal dari keluarga berkecukupan, untuk sesekali merenung, atau bahkan kalo perlu mengunjungi dan memahami sisi kehidupan mereka yang untuk mendapatkan beberapa lembar uang saja memerlukan perjuangan yang bisa dikatakan sampai memeras semua keringat, membanting segenap tulang.

Jika kalian melihat semua itu, dalam artian nggak hanya melihat dengan mata tapi juga dengan hati, maka insya Allah kamu akan memahami, bahwa berhemat, apalagi menghemat uang yang telah diberikan orangtua, itu penting sekali. Akan ada berlapis-lapis pertanyaan yang muncul sebelum kamu benar-benar yakin untuk mengeluarkan sejumlah uang atau nggak.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana bisa berhemat? Padahal kebiasaan boros sudah sejak lama mengakar dan mendarah daging. Penjelasannya sebenarnya simpel. Sesimpel pertanyaan, bagaimana bisa kebiasaan boros bisa mengakar dan mendarah daging di dalam diri. Jika kebiasaan boros bisa mengakar, berarti kebiasaan berhemat juga bisa mengakar dong.

Kebiasaan berhemat, sebagaimana kebiasaan boros, bisa kamu miliki, asalkan kamu mau. Ya, asalkan kamu mau, itulah kuncinya. Jika kamu nggak mau, seluruh manusia di bumi ini dikumpulkan pun akan percuma jika kamu nggak punya kemauan. Jika kamu sudah mau, maka semuanya akan berjalan lebih mudah. Semudah dulu ketika kebiasaan boros mulai terbentuk. Mestinya kamu inget juga dengan pepatah yang mengatakan, bahwa ‘di mana ada kemauan, di situ ada jalan.’

Sobat gaulislam, jika kamu saat ini sudah punya bisnis sendiri, maka saya ucapkan selamat. Saya acungi jempol, dengan syarat, bisnis yang kamu tekuni saat ini adalah bisnis yang halal. Jangan sampai, kamu punya bisnis, tapi bisnis sabung ayam, di mana kamu juga merangkap sebagai bandar taruhan. Atau bisnismu berjalan pesat luar biasa, tapi ketika ditanya bisnis apa, ternyata bisnis narkoba. Naudzubillah.

Sedapat mungkin, bangunlah sebuah bisnis yang membanggakan. Bangga karena bermanfaat, yang manfaat itu nggak hanya bisa dirasakan di dunia, melainkan dirasakan keberkahannya juga di akhirat. Istilahnya, berbisnis sekalian ibadah. Bisnis apa saja itu? Banyak sekali pilihannya. Misalnya, bisnis pakaian muslimah yang syar’i. Selain untuk mendapatkan keuntungan berupa uang, bisnis semacam ini membuat kita bisa berkontribusi meramaikan dunia fashion dengan deretan baju-baju syar’i, sehingga pembeli nggak hanya sekadar memakai baju, tapi juga baju yang insya Allah diridhoi oleh Allah Ta’ala.

Intinya adalah, janganlah berbisnis sesuatu yang diharamkan oleh Allah Ta’ala semisal bisnis babi, anjing, miras, narkoba, dan lain sebagainya. Mungkin, dengan berbisnis narkoba, bisa jadi kamu akan kaya mendadak. Tapi ingatlah, kekayaan itu nggak akan membuatmu bahagia, karena cepat atau lambat, azab Allah Ta’ala akan datang menghampiri. Ngeri!

Belum lagi terkait dampak yang ditimbulkan dari bisnis narkoba itu sendiri. Bayangkanlah, setiap jiwa yang kamu hancurkan masa depannya karena bisnis ini, maka kamu juga akan mendapatkan dosanya. Semakin banyak orang memakai narkoba yang kau jual, maka sebanyak itu pula dosa yang akan kamu dapatkan.

Terakhir, bagi kamu yang masih malas-malasan, ayo bangkit kawan. Ayam jantan sudah berkokok. Maka lihatlah para remaja yang sudah berlari dengan kerajaan bisnis, entah besar atau kecil, yang telah mereka bangun. Janganlah terpana pada mereka yang hanya meringkuk di bawah selimut kemalasan mereka, sambil menadahkan tangannya, meminta-minta pada orangtua.

[Farid Ab | Twitter @badiraf]

Amr bin al-Jamuh

“Orang tua yang bertekad menginjak surga dengan kakinya yang pincang.”

Amr bin al-Jamuh adalah salah seorang pembesar Yastrib pada zaman Jahiliyah. Ia juga pemuka Bani Salamah. Ia terkenal sebagai salah satu tokoh Madinah yang penderma dan memiliki kehormatan diri tinggi.

Salah satu kebiasaan para pembesar pada zaman Jahiliyah adalah bahwa masing-masing dari mereka harus membuat sebuah berhala di rumahnya, agar ia mendapat keberkahan dari berhala tersebut setiap pagi dan petang. Pada waktu musim-musim tertentu mereka juga harus menyembelih hewan untuk dikorbankan kepada berhala tadi, agar berhala-berhala tersebut juga dapat menjadi pelindung mereka pada saat-saat bahaya dan sempit.

Berhala milik Amr bin al-Jamuh diberi nama dengan Manat yang ia buat dari kayu yang bagus. Amr adalah tokoh yang amat perhatian terhadap berhala ini dibandingkan tokoh yang lain. Ia menjaganya dan memberinya wewangian terbaik bagi berhala ini.

***

Amr bin al-Jamuh sudah menginjak usia 60 tahun saat cahaya iman menerangi rumah-rumah penduduk Yastrib dengan gerakan dakwah yang dilakukan oleh Mus’ab bin Umair. Dari tangannya telah masuk ke dalam Islam tiga orang anak Amr bin al-Jamuh yang bernama: Mu’awwadz, Mu’adz dan Khallad. Ada juga teman sebaya mereka yang masuk ke dalam Islam bernama Mu’adz bin Jabal.

Bersama ketiga anaknya, telah masuk Islam juga istrinya yang bernama Hindun. Amr bin al-Jamuh tidak tahu bahwa mereka semua telah beriman.

Hindun, istri Amr bin al-Jamuh melihat bahwa kebanyakan penduduk Yastrib telah memeluk Islam, dan tidak ada seorang pembesar Madinah pun yang tetap berada dalam kemusyrikan selain suaminta dan beberapa orang yang mengikutinya.

Istrinya berharap agar Amr bin al-Jamuh mati dalam keadaan kafir dan masuk ke dalam neraka. Dan Amr bin al-Jamuh sendiri khawatir apabila anaknya meninggalkan agama nenek moyang mereka dan mengikuti dakwah yang dibawa oleh Mus’ab bin Umair yang telah berhasil mengeluarkan banyak manusia dari agama mereka dalam waktu yang singkat, dan memasukkan mereka ke dalam agama Muhammad.

Amr bin al-Jamuh berkata kepada istrinya, “Wahai Hindun, jagalah anak-anakmu agar tidak berjumpa dengan pria itu (maksudnya Mus’ab bin Umair) sehingga kita memutuskan apa yang mesti kita lakukan terhadap orang ini.”

Istrinya menjawab, “Baik kalau begitu. Akan tetapi apakah engkau bersedia mendengar langsung dari anakmu, Mu’adz, apa pendapatnya tentang orang ini?”

Amr berkata, “Celaka kamu! Apakah Mu’adz telah keluar dari agamanya dan aku tidak mengetahui hal ini?”

Istrinya yang shalehah ini berkata dengan lemah lembut kepada suaminya yang sudah menua, “Tidak, akan tetapi ia pernah ikut beberapa majelis yang digelar oleh orang ini, dan ia ingat akan beberapa hal yang diucapkan oleh orang ini.”

Lalu Amr berkata, “Panggillah dia untuk menghadapku…!”

Saat Mu’adz datang di hadapannya, Amr berkata kepadanya, “Ceritakan kepadaku apa yang telah dikatakan oleh orang (Mus’ab bin Umair) ini!”

Maka Mu’adz langsung membacakan, “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sang Pemilik Hari Pembalasan. Hanya kepada-Mu lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kepada kami jalan yang lurus. Jalan yang Engkau berikan nikmat kepada mereka,  bukan jalan yang Engkau murkai dan bukanlah jalan orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Faatihah: 1-7)

Kemudian Amr berkata, “Alangkah indahnya ucapan ini?! Apakah semua pembicaraannya seperti ini?!”

Mu’adz menjawab, “Bahkan lebih indah dari ini, wahai Ayahku. Apakah engkau mau mengikutinya. Semua kaummu telah bersumpah setia kepada Mus’ab bin Umair!”

Amr yang telah tua berdiam diri sejenak lalu berkata, “Aku tidak akan melakukannya hingga aku meminta pendapat kepada Manat dann aku akan melihat apa yang dikatakannya.”

Maka Mu’adz berkata, “Apa yang dapat diucapkan oleh Manat, wahai Ayahku. Dia hanyalah sebuah kayu yang tuli. Tidak dapat berpikir dan berbicara!”

Amr pun berkata dengan sengit, “Aku katakan kepadamu bahwa aku tidak akan mengambil keputusan sebelum bermusyawarah dengannya.”

***

Amr bin Jamuh datang menghadap Manat. Kebiasaan mereka kaum Jahiliyah adalah jika ingin berbicara dengan berhala  mereka berdiri di belakang seorang wanita tua, sehingga wanita tua tadi akan memberikan jawaban seperti yang diilhamkan oleh para berhala –dalam dugaan mereka-. Kali ini Amr berdiri tegak lurus di hadapan Manat. Ia bertumpukan pada kakinya yang sehat. Kaki Amr yang satunya lagi amat pincang. Amr memuji Manat dengann pujian terindah, lalu berkata, “Ya Manat, tidak disangsikan bahwa kau telah  mengetahui orang yang datang dari Makkah dan berdakwah di negeri kita. Tiada yang ia kehendaki selain keburukan saja… ia datang ke sini untuk menghalangi kami dari menyembahmu. Aku tidak mau bersumpah setia kepadanya –meski aku mendengarkan betapa indah ucapannya- hinga aku bermusyawarah terlebih dahulu kepadamu. Berilah pendapatmu kepadaku!” Namun Manat tidak berkata sepatah kata pun kepada Amr.

Lalu Amr berkata, “Mungkin engkau telah murka…. aku tidak akan melakukan apapun yang dapat membahayakanmu setelah ini. Akan tetapi tidak menjadi masalah, aku akan membiarkanmu sendiri dalam beberapa hari hingga amarahmu menjadi reda.”

***

Anak-anak Amr bin Jamuh mengerti betapa ayah mereka begitu cinta kepada berhalanya yang bernama Manat. Dan kecintaan tersebut semakin bertambah dengan berjalannya waktu. Akan tetapi mereka menyadari bahwa ayah mereka juga mulai ragu akan kehebatan Manat dalam hatinya. Dan mereka juga sadar bahwa mereka harus mengubah pengaruh Manat ini dari hati ayahnya, dan itulah cara satu-satunya menuju iman.

***

Pada suatu malam, anak-anak Amr bin Jamuh bersama Mu’adz bin Jabal mendatangi Manat. Mereka membawa Manat dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang di Bani Salamah tempat mereka membuang sampah. Mereka pun kembali ke rumah masing-masing tanpa ada seorang pun yang mengetahui ulah mereka. Begitu pagi datang menjelang, Amr pergi dengan langkah pasti untuk memberikan salam kepada berhalanya, namun sayang kali ini ia tidak menjumpainya. Ia langsung berseru, “Celaka kalian, siapa yang telah berani berlaku nista kepada Tuhan kita malam tadi….?! Tidak ada seorang pun yang mengaku.

Serta merta ia mencari berhala tadi di dalam dan di luar rumah. Ia terlihat begitu marah dan emosi. Ia mengancam dan mengecam terus menerus hingga ia menemukan Manat dengan kepala tersembul di lubang. Maka Amr langsung mencucinya hingga bersih dan memberikan wangi-wangian kepadanya. Kemudian ia mengembalikan Manat ke tempatnya. Ia berkata kepada Manat, “Demi Allah, kalau saja aku tahu siapa yang melakukan ini terhadapmu, pasti akan aku siksa dia!”

Pada malam kedua, para pemuda tadi mendatangi Manat dan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan padanya kemarin. Begitu masuk pagi, Amr yang tua mencarinya lagi dan ia menemukan Manat sedang berada di lubang dengan berlumuran kotoran. Lalu ia mengambilnya, mencucinya dan memakaikan padanya wangi-wangian. Ia menempatkan kembali Manat pada tempatnya.

Para pemuda tadi terus saja melakukan hal yang sama setiap hari. Saat Amr sudah merasa jengkel, ia datang menghadap Manat sebelum beranjak tidur dengan  membawa pedangnya dan pedang tersebut ia gantungkan ke kepala Manat. Lalu ia berujar, “Ya Manat, demi Allah aku tidak tahu siapa yang melakukan hal ini sebagaimana kau melihatnya. Jika kau mampu tolaklah kejahatan dari dirimu ini. Bawalah pedang ini bersamamu!” Setelah merasa nyaman, Amr pun berangkat tidur.

Begitu para pemuda tadi merasa yakin bahwa ayah mereka yang tua, Amr, sudah terlelap tidur, maka serta merta mereka langsung menuju berhala tadi. Mereka melepas pedang dari leher berhala dan mereka membawa keluar berhala tersebut. Mereka mengikatkan Manat dengan tambang pada seekor anjing yang telah mati. Lalu mereka melemparkan keduanya ke dalam sumur Bani Salamah di mana mengalir dan berkumpul di dalamnya kotoran dan sampah.

Begitu Amr yang tua terjaga dan ia tidak mendapati berhalanya, ia pun pergi untuk mencarinya. Ia mendapati bahwa Manat sedang tertelungkup wajahnya dalam sumur dan terikat dengan seekor anjing yang telah mati. Pedang yang ada bersama Manat telah diambil. Kali ini, Amr tidak mengeluarkan Manat dari lubang, ia membiarkan Manat di tempatnya. Lalu ia berujar:

Demi Allah, bila engkau adalah seorang tuhan
Tidak mungkin engkau terikat bersama anjing di tengah sumur

Tidak lama kemudian, ia pun masuk ke dalam agama Allah.

***

Amr bin al-Jamuh merasakan manisnya iman yang membuat ia menyesal atas setiap saat yang dilaluinya dalam kemusyrikan. Ia masuk ke dalam agama yang baru dengan jiwa dan raganya. Ia mendedikasikan jiwa, harta dan anaknya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

***

Tidak lama berselang, terjadilah perang Uhud. Amr bin al-Jamuh menyaksikan para putranya sedang bersiap-siap untuk menghadapi para musuh Allah. Ia mendapati mereka setiap pagi dan petang bagaikan para singa di tengah hutan. Mereka begitu semangat untuk mendapatkan kesyahidan dan meraih ridha Allah. Kondisi ini membuat ia turut bersemangat. Ia bertekad untuk berangkat bersama mereka berjihad di bawah panji Rasulullah SAW. Akan tetapi anak-anaknya bersepakat untuk menghalangi ayah mereka untuk melaksanakan niatnya…. sebab ayahnya adalah seorang yang amat tua renta. Ditambah lagi, kakinya amat pincang. Padahal Allah SWT sudah memberikan dispensasi baginya. Maka anak-anaknya berkata kepada Amr, “Wahai Ayah, Allah telah memaafkanmu. Mengapa engkau membebani dirimu sendiri padahal Allah sudah memaafkanmu?!”

Maka Amr yang tua renta pun menjadi amat berang. Ia langsung datang menghadap Rasulullah SAW untuk mengadukan mereka kepada beliau. Ia berkata, “Wahai Nabi Allah, anak-anakku ingin melarangku untuk melakukan kebaikan ini. Mereka beralasan karena kakiku pincang. Demi Allah, aku berharap dapat menginjak surga dengan kakiku yang pincang ini.”

Lalu Rasulullah SAW berkata kepada anak-anak Amr, “Biarkanlah ia, semoga Allah memberikan kesyahidan baginya.”

Maka anak-anak Amr membiarkan ayah mereka karena taat dengan perintah Rasulullah SAW.

***

Begitu waktu berangkat diumumkan, Amr bin al-Jamuh mengucapkan kata berpisah kepada istrinya seperti ucapan perpisahan seorang yang tak akan kembali lagi. Lalu ia menghadap kiblat dan mengangkat kedua telapak tangannya ke arah langit seraya berdoa, “Ya Allah, berikanlah aku kesyahidan dan jangan kembalikan aku kepada keluarga lagi dengan rasa putus asa.”

Lalu ia berangkat dengan dilindungi oleh ketiga anaknya dan pasukan yang banyak dari Bani Salamah. Saat peperangan berkecamuk dengan sengit, dan manusia sudah mulai terpisah dari barisan Rasulullah SAW, Amr bin al-Jamuh terlihat pada barisan pertama. Ia melompat dengan kakinya sambil berseru, “Aku  merindukan surga!!! Aku merindukan surga!!!” Dan di belakangnya terlihat anaknya yang bernama Khallad.

Kedua anak-beranak tersebut membabatkan pedang mereka seraya melindungi Rasulullah SAW dari musuh hingga keduanya tersungkur sebagai syahid di medan laga. Jarak kematian sang anak dari ayahnya hanya sedikit berselang.

***

Begitu peperangan berhenti, Rasulullah SAW berdiri di hadapan para jenazah untuk menguruk tanah kubur mereka. Beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Biarkan darah dan luka  mereka, aku menjadi saksi bagi mereka semua!”

Lalu beliau bersabda, “Tidak ada seorang Muslim yang terluka di jalan Allah, kecuali pada hari Kiamat ia akan datang dengan darah mengalir yang warnanya seperti warna za’faran dan wangi seperti wangi misyk.”

Beliau juga bersabda, “Kuburkan Amr bin al-Jamuh bersama Abdullah bin Amr. Mereka berdua adalah orang yang saling mencinta dan satu barisan di dunia.”

***

Semoga Allah meridhai Amr bin al-Jamuh dan para sahabatnya yang menjadi syuhada Uhud. Semoga Allah memberikan cahaya di kubur mereka.

 

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

 

Abu Ayyub Al-Anshari

Khalid bi Zaid an-Najjari
“Dimakamkan di bawah Benteng Konstantinopel.”

Ini adalah seorang sosok sahabat besar yang terkenal dengan nama Khalid bin Zaid dari Bani an-Najjar. Panggilannya adalah Abu Ayyub, dan ia berasal dari suku Anshar. Siapakah dari kaum Muslimin yang tidak mengenal Abu Ayyub al-Anshari?

Allah telah mengharumkan namanya dari Timur hingga ke Barat negeri. Allah telah meninggikan derajatnya saat dia memilih rumah Abu Ayyub bukan rumah kaum Muslimin lainnya saat sebagai tempat singgah Rasulullah SAW saat beliau tiba di Madinah sebagai seorang Muhajir. Dan hal ini cukup membuat bangga diri Abu Ayyub.

Saat Rasulullah SAW singgah di rumah Abu Ayyub, ada sebuah kisah yang amat manis dan indah untuk dikenang.

Hal ini dimulai begitu Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau disambut oleh hati terbuka para penduduknya dengan sambutan yang begitu mulia. Mata mereka memancarkan kerinduan seorang kekasih kepada Nabi SAW. Mereka mau membukakan pintu hati mereka bagi beliau. Mereka juga membuka pintu mereka agar Nabi SAW mau singgah sebagai tempat singgah yang paling mulia. Akan tetapi Rasulullah SAW sempat singgah di Quba’, sebuah dataran yang terdapat di Madinah 4 hari lamanya. Selama itu Rasulullah SAW sempat membangun sebuah masjid yang kemudian menjadi masjid pertama yang dibangun berdasarkan takwa.

Kemudian beliau pergi meninggalkan Quba dengan mengendarai untanya menuju Madinah. Di tengah perjalanan para pemuka Yastrib menghalangi jalan Rasul SAW. Masing-masing dari mereka menginginkan agar beliau berkenan singgah di rumah salah satu dari mereka…. Masing-masing mereka menarik unta Rasul sambil berkata,  “Menginaplah di rumah kami, wahai Rasulullah, dalam penjagaan dan pengawasan yang begitu kuat.” Lalu Rasul berkata kepada mereka, “Biarkan unta ini berjalan, karena ia sudah diperintahkan.”

Unta Rasulullah melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat tujuan yang diikuti oleh pandangan mata dan harapan hati para penduduk Madinah…. jika unta tersebut telah melewati sebuah rumah maka penghuni rumah tadi menjadi sedih dan putus asa dibuatnya, pada saat yang sama sinar pengharapan masih terus terpancar pada jiwa para tetangganya yang belum dilewati oleh unta Rasulullah SAW.

Unta tersebut masih saja melakukan tugasnya dan para manusia mengikuti jejaknya karena mereka betapa ingin mengetahui siapa yang akan mendapatkan keberuntungan ini; sehingga unta tersebut tiba di sebuah pekarangan kosong di depan rumah Abu Ayyub al-Anshari, dan unta tadi langsung duduk di sana….

Meski unta sudah duduk, namun Rasulullah belum juga turun dari punuknya. Unta tersebut terus duduk di sana, tidak lompat, berdiri lalu pergi, dan Rasulullah SAW melepaskan tali kekang dari untanya. Unta beliau masih saja tetap di sana tanpa mengangkat kakinya dan ia masih tetap di tempat berhentinya yang semula.

Pada saat itu, terbuncah kegembiraan hati Abu Ayyub al-Anshari dan ia langsung menghambur menghampiri Rasulullah SAW untuk menyambut beliau. Ia membawakan barang-barang milik Rasulullah seolah ia sedang membawa harta karun yang terkandung di seluruh dunia ini, dan ia pun masuk ke dalam rumahnya.

***

Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua tingkat. Abu Ayyub mengosongkan tingkat atas dari rumahnya agar Rasulullah SAW bisa tinggal di sana. Akan tetapi beliau lebih memilih untuk tinggal di bawah saja. Abu Ayyub pun melakukan permintaan Rasulullah dan menempatkan beliau sesukanya.

Begitu malam mulai datang dan Rasul SAW sudah berada di peraduannya, Abu Ayyub dan istrinya hendak naik ke tingkat atas. Begitu mereka baru saja mau menutup pintu, Abu Ayyub menoleh ke arah istrinya sambil berkata, “Celaka kamu, apa yang telah kita perbuat? Apakah pantas Rasulullah SAW berada di bawah dan kita tinggal di atasnya?! Apakah kita akan melangkah di atas tubuh Rasulullah SAW?! Apakah kita akan berjalan di antara seorang Nabi dan wahyu?! Kita bisa celaka kalau begitu.”

Akhirnya suami istri tersebut menjadi bingung dan tidak tau mau berbuat apa.

Keduanya merasa tidak tenang kecuali pada saat mereka mau ke bagian atas rumah di mana tidak tepat berada di atas tubuh Rasulullah SAW. Mereka berdua dengan hati-hati tidak melangkah kecuali pada sudut pinggir yang jauh dari tengah.

Begitu menjelang pagi, Abu Ayyub berkata kepada Nabi SAW, “Demi Allah, tadi malam kami tidak bisa tertidur, baik aku atau Ummu Ayyub.” Rasulullah SAW bertanya, “Mengapa demikian, wahai Abu Ayyub?!” Ia menjawab, “Aku teringat bahwa aku berada di tengah rumah di mana Engkau berada di bawahnya, dan aku sadar jika aku bergerak pasti akan membuat debu berterbangan dan menimpamu sehingga dapat mengganggumu. Dan aku teringat bahwa aku akan menghalangi dirimu dan wahyu.”

Lalu Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Tenanglah, wahai Abu Ayyub. Aku lebih senang tinggal di bawah, karena banyak orang yang mengunjungiku.”

***

Abu Ayyub berkata:

Aku melaksanakan perintah Rasulullah SAW hingga pada suatu malam yang dingin tempat air kami pecah dan airnya tumpah dari atas. Maka aku dan Ummu Ayyub bergegas menghampiri air tersebut. Kami tidak memiliki apa-apa selain selembar kain yang kami jadikan lap. Kami mencoba mengeringkan air tersebut karena khawatir dapat mengenai Rasulullah SAW.

Begitu masuk pagi, aku datang kepada Nabi SAW dan aku berkata kepada beliau, “Demi ibu dan bapakku, aku merasa segan berada di atasmu dan kau berada di bawahku. Dan aku ceritakan kepada beliau tentang tempat air yang pecah tadi. Beliau langsung memenuhi permintaanku dan naik ke bagian atas rumah. Dan aku beserta Ummu Ayyub pun pindah ke bawah.

Nabi SAW tinggal di rumah Abu Ayyub selama kira-kira 7 bulan lamanya. Sehingga selesai pembangunan masjid Rasul di sebuah tanah kosong yang pernah dipakai sebagai tempat pemberhentian oleh untanya. Lalu Nabi SAW pindah ke kamar yang dibangun untuk dirinya dan para istrinya yang berada di sekitar masjid. Dan Nabi SAW menjadi tetangga Abu Ayyub. Alangkah mulianya kehidupan bertetangga ini.

Abu Ayyub mencintai Rasulullah SAW dengan seluruh hati dan sanubarinya. Dan Rasulullah SAW juga mencintai Abu Ayyub dengan begitu cintanya sehingga tak berjarak lagi. Beliau menganggap bahwa rumah Abu Ayyub sudah seperti rumah beliau.

***

Ibnu Abbas RA berkata:

Pada suatu siang hari yang panas, Abu Bakar datang ke masjid dan Umar melihatnya seraya bertanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang membuatmu datang ke masjid pada saat seperti ini?” Abu Bakar menjawab, “Yang membuatku datang ke masjid tiada lain karena aku merasa lapar sekali.” Umar pun bertukas, “Demi Allah, aku pun keluar dari rumah karena aku juga merasa amat lapar.”

Saat keduanya sedang merasa amat lapar, datanglah Rasulullah SAW ke arah mereka sambil bertanya, “Apa yang membuat kalian berdua keluar pada saat seperti ini?” Keduanya menjawab, “Demi Allah, kami keluar dari rumah karena di rumah kami tidak terdapat apa-apa untuk dimakan dan kami merasa amat lapar.” Rasulullah membalas, “Demi Allah, aku pun keluar karena hal yang sama. Kalau begitu, ikutilah aku!”

Akhirnya, mereka bertiga datang ke rumah Abu Ayyub al-Anshari RA. Abu Ayyub setiap hari menyisakan makanan untuk Rasulullah SAW. Jika Rasulullah terlambat datang atau tidak datang pada waktu makan, maka makanan tersebut ia berikan kepada keluarganya.

Begitu mereka sampai di depan pintu rumah Abu Ayyub, keluarlah Ummu Ayyub sambil berkata, “Selamat datang kepada Nabi Allah dan orang yang bersamanya.” Lalu Nabi SAW bertanya kepadanya, “Ke mana Abu Ayyub?” Abu Ayyub mendengar suara Nabi SAW saat itu sedang bekerja di bawah pohon kurma dekat rumahnya- dan ia pun langsung datang menghadap segera sambil berkata, “Selamat datang kepada Rasulullah dan orang yang bersamanya.” Kemudian ia menyambung, “Wahai Nabi Allah, ini bukanlah waktu yang biasanya engkau datang.” Beliau menjawab, “Engkau benar.” Lalu Abu Ayyub berlari ke arah pohon kurmanya dan ia memotong satu tandan yang berisikan kurma yang matang dan belum masak.”

Kemudian Rasulullah SAW berkata, “Aku tak menginginkan dirimu untuk memotongnya, akan tetapi cukup kau petikan saja buahnya untuk kami?” Abu Ayyub menjawab, “Wahai Rasulullah, aku amat ingin engkau memakan kurma yang masak maupun tidak dari pohon ini, dan aku akan menyembelih hewan untukmu juga.” Rasulullah menjawab, “Jika kau ingin menyembelih hewan, sembelihlah namun jangan banyak susunya!”

Maka Abu Ayyub langsung mengambil seekor anak kambing lalu menyembelihnya. Lalu ia berkata kepada istrinya, “Aduklah adonan dan buatkan kami roti sebab engkau amat tahu cara membuat roti.” Lalu ia mengambil separuh dari anak kambing tadi dan memasaknya. Setengahnya lagi ia panggang. Begitu makan telah masak dan telah dihidangkan di hadapan Rasulullah SAW dan kedua sahabatnya, maka Rasulullah SAW langsung mengambil sepotong daging dari anak kambing tadi dan beliau meletakkannya dalam roti. Beliau pun berkata, “Wahai Abu Ayyub, bawalah segera potongan daging ini kepada Fathimah, karena ia belum memakan apa pun seperti ini sejak pagi tadi.”

Begitu mereka semua telah menikmati makanan dan merasa kenyang, Nabi SAW berkata, “Roti, daging, kurma mentah dan kurma masak!” Lalu kedua mata Rasul SAW meneteskan air mata. Beliau pun berkata, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya. Ini adalah kenikmatan yang akan dipertanyakan kepada kalian di hari kiamat. Jika kalian menemukan makanan seperti ini dan kalian sudah mulai memegangnya dengan tangan kalian, maka bacalah, ‘Bismillah’. Jika kalian sudah merasa kenyang, maka bacalah, ‘Alhamdulillahalladzi Huwa asyba’na wa an’ama ‘alaina fa afdhala (segala puji bagi Allah yang telah membuat kami merasa kenyang dan telah menganugerahkan kepada kami sehingga membuat kami menjadi mulia).”

Lalu Rasulullah SAW bangkit dan berkata kepada Abu Ayyub, “Datanglah menghadap kami besok hari!”

Rasulullah SAW adalah seorang yang bila menerima jasa baik dari orang lain maka ia ingin membalas kebaikan tersebut; akan tetapi Abu Ayyub belum pernah mendengar hal itu.

Kemudian Umar berkata kepada Abu Ayyub, “Nabi SAW menyuruhmu untuk mendatangi beliau esok hari, wahai Abu Ayyub!”

Lalu Abu Ayyub berkata, “Baik dan aku akan taati perintah Rasulullah.”

Keesokan harinya Abu Ayyub datang menghadap Rasulullah dan beliau memberinya seorang budak wanita kecil untuk membantu pekerjaanya. Rasul berpesan kepada Abu Ayyub, “Jagalah ia dengan baik, wahai Abu Ayyub. Tidak ada yang kami dapati darinya selain kebaikan selama ia bersama kami.”

***

Abu Ayyub kembali ke rumahnya bersama budak wanita kecil itu. Begitu Ummu Ayyub melihat budak tadi ia langsung bertanya, “Milik siapa budak ini, wahai Abu Ayub?! Ia menjawab, “Dia milik kita…. Rasul SAW telah memberikannya kepada kita.” Istrinya menjawab, “Agungkanlah orang yang memberikannya, dan alangkah mulianya pemberian ini.” Abu Ayyub berkata, “Rasul berpesan agar budak ini diperlakukan dengan baik.” Istrinya bertanya, “Apa yang mesti kita lakukan untuk melaksanakan pesan Rasul SAW?” Abu Ayyub berkata, “Demi Allah, tidak aku dapati hal yang lebih baik akan wasiat Rasul SAW daripada membebaskannya.” Istrinya menjawab, “Engkau telah mendapatkan petunjuk ke arah kebenaran. Engkau telah diberi taufik.” Maka akhirnya budak tersebut dibebaskan oleh Abu Ayyub.

***

Inilah sebagian kisah kehidupan Abu Ayyub al-Anshari dalam kondisi aman. Jika anda berkesempatan untuk melihat kisah hidupnya dalam peperangan, anda akan menjumpai sebuah keajaiban.

Abu Ayyub RA mengisi hidupnya dengan berjuang di jalan Allah hingga ada orang yang berkata bahwa ia tidak pernah ketinggalan mengikuti setiap peperangan yang dilakukan kaum Muslimin sejak zaman Nabi SAW hingga masa Mu’awiyah kecuali bila ada kegiatan lain.

Perang terakhir yang diikutinya adalah saat Mu’awiyah mempersiapkan sebuah pasukan di bawah kepemimpian anaknya yang bernama Yazid untuk menaklukkan Konstantinopel. Pada saat itu, Abu Ayyub adalah seorang tua renta yang berusia lebih dari 80 tahun. Namun hal itu tidak membuat dirinya urung untuk bergabung dengan pasukan Yazid dan mengarungi ombak lautan demi berjuang di jalan Allah SWT.

Akan tetapi tidak lama berselang sejak pertempuran melawan musuh, Abu Ayyub jatuh sakit dan  tidak mampu lagi melakkan pertempuran. Maka datanglah Yazid menjenguknya dan bertanya kepadanya, “Apakah engkau membutuhkan sesuatu, wahai Abu Ayyub?” Ia menjawab, “Sampaikanlah salamku kepada para tentara kaum Muslimin dan katakan kepada mereka, ‘Abu Ayyub berpesan kepada kalian agar kalian merengsek ke dalam barisan musuh hingga batas terjauh. Bawalah Abu Ayyub bersama kalian dan kuburkanlah ia di bawah kaki kalian dan di bawah pagar Benteng Konstantinopel….” Ia pun menghembuskan napasnya yang terakhir.”

***

Pasukan muslimin memenuhi keinginan seorang sahabat Rasulullah ini. Mereka merangsek dan menyerang pasukan musuh sedikit demi sedikit hingga mereka sampai di pagar Benteng Konstantinopel dengan membawa jasad Abu Ayub.

Di sanalah mereka menggali kubur untuk Abu Ayyub dan menguruknya dengan tanah.

***

Semoga Allah merahmati Abu Ayyub al-Anshari. Ia telah berani mati di tanah musuh dengan berjuang di jalan Allah SWT, padahal umurnya saat itu berkisar 80 tahun.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

Menyikapi Fitnah Terhadap Islam dan Para Pejuangnya

[Al-Islam No. 863-20 Syawal 1438 H_14 Juli 2017]


Berbagai tudingan terhadap ajaran Islam dan para pejuangnya kian hari kian marak terjadi. Berbagai tudingan ini bermuara pada satu hal: nafsu untuk menghalang-halangi penerapan ajaran Islam dalam kehidupan.

Khilafah, misalnya, dituding sebagai bukan bagian dari ajaran Islam. Jelas, ini merupakan fitnah yang luar biasa. Bagaimana mungkin Khilafah yang telah dinyatakan dalam al-Quran, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat bahkan Ijmak Ulama dituding bukan bagian dari ajaran Islam? Bagaimana mungkin pula Khilafah yang pernah ada dalam rentang sejarah selama lebih dari 13 abad dengan peradaban emasnya—sejak Khulafaur Rasyidin, Khilafah Umayah, Khilafah Abasiyah dan Khilafah Utsmaniyah—seolah-olah dianggap tidak pernah ada?

Kini seruan tentang Khilafah seolah menjadi aib. Penyebar ajaran tentang Khilafah dianggap kriminal. Para pejuang Islam yang menyerukan Khilafah sebagai wujud penerapan Islam secara kâffah dituding sebagai radikal, pemecah-belah bangsa, anti Pancasila dan NKRI, bahkan dituduh sebagai teroris. Karena itu Pemerintah—meski harus melanggar UU yang mereka buat sendiri—terkesan memaksakan diri untuk mengeluarkan Perppu dengan tujuan untuk membubarkan ormas yang sebelumnya dituding dengan berbagai tudingan di atas. Boleh jadi tidak hanya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang disasar, tetapi sejumlah ormas Islam lain yang juga dituding radikal hanya karena berseberangan dengan Pemerintah.

Tidak hanya itu, segala seruan yang bernuansa Islam kini dicurigai. Ada upaya Pemerintah melalui Kemenag untuk mewaspadai keberadaan Kerohanian Islam (Rohis) di sekolah-sekolah. Padahal aktivitas Rohis sangat positif. Rohis justru menjadi benteng bagi para remaja ketika mengalami gempuran budaya Barat, khususnya pergaulan bebas, yang merusak moral.

Melalui pernyataan pejabat Kementerian Pendidikan baru-baru ini, Pemerintah pun menganggap mata kuliah agama Islam di perguruan tidak terlalu penting. Mata kuliah agama Islam di perguruan tunggi, yang hanya 2 SKS, dianggap tidak ada gunanya dan tidak relevan dengan keilmuan sehingga harus diabaikan.

Itulah di antara berbagai fitnah yang menimpa Islam dan para pejuangnya di negeri ini, akhir-akhir ini. Pertanyaannya: mengapa semua ini terjadi? Di dalam al-Quran Allah SWT memberikan jawaban:

وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُم حَتَّىٰ يَرُدُّوكُم عَن دِينِكُم إِنِ ٱستَطَٰعُواْ
Mereka (musuh-musuh Islam) tidak henti-hentinya memerangi kalian (umat Islam) hingga mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian (pada kekafiran) jika mereka mampu (TQS al-Baqarah [2]: 217).

Pelajaran dari Fitnah Terhadap Rasulullah saw. dan Para Sahabat ra.

Sebagaimana kita ketahui, sejarah manusia tidak pernah kosong dari pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Para penyeru kebaikan senantiasa mendapat tantangan dan halangan dari para penyeru kebatilan, juga dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan bersikap pragmatis yang hidup sekadar mencari kemanfaatan duniawi dan demi memenuhi hasrat hawa nafsu semata. Demikian yang dialami oleh seluruh nabi dan rasul sekaligus menjadi sunnatullah bagi dakwah mereka.

Tak ada perjuangan tanpa ancaman dan tantangan, bahkan hambatan dan gangguan. Rasulullah saw. pun—manusia yang paling baik akhlaknya, paling baik tutur kata serta budi bahasanya; yang senantiasa dibimbing wahyu dalam seluruh sikap, kata dan perbuatannya; yang menjadi teladan seluruh umat manusia—tidak luput dari hal tersebut. Beliau, misalnya, pernah mendatangi orang-orang di rumah-rumah dan pasar-pasar mereka demi menyampaikan kalimat, “Katakanlah: Lâ ilâha-illalLâh niscaya kalian akan sukses!” Setiap kali Rasulullah saw. keluar menyampaikan dakwahnya, Abu Lahab senantiasa mengikuti beliau untuk mendustakan beliau sekaligus memperingatkan orang-orang Quraisy agar tidak mengikuti ajakan beliau. Rasulullah saw. pun digelari dengan sejumlah julukan miring antara lain: pendusta, penyihir, penyair, gila, pemecah-belah, dll. Namun demikian, Rasulullah saw. adalah manusia unggul yang kuat dan tahan banting. Beliau tetap teguh dan lurus dalam perjuangannya. Semua ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan tidak beliau pedulikan. Beliau tetap maju ke depan memperjuangkan risalah yang beliau bawa sebagai amanat dari Allah SWT.

Orang-orang Mukmin generasi pertama dan terbaik, yang senantiasa mengikuti jejak langkah Rasulullah saw. dengan ikhlas dan penuh kesungguhan, juga mengalami hal yang sama. Bahkan orang-orang Mukmin dari kalangan rakyat biasa, yang tidak memiliki perlindungan dari keluarga dan kaumnya, mendapatkan hambatan dan gangguan fisik dari orang-orang yang tidak menyukai Islam berkembang. Bilal ra., seorang budak yang masuk Islam, misalnya, disiksa dengan ditelentangkan di padang pasir pada siang hari yang terik serta ditindih batu. Khabab bin al-Art ra., seorang budak yang lain, ditusuk oleh tuannya dengan besi panas. Yasir dan istrinya, Sumayyah, bahkan menjadi syahid dalam perjuangan menegakkan kalimat tauhid: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh.

Namun demikian, Rasulullah saw. dan para sahabat beliau adalah orang-orang yang pantang menyerah dalam menegakkan kebenaran. Mereka sabar dan sangat memahami hakikat ancaman, tantangan, hambatan maupun gangguan yang mereka hadapi. Semua itu mereka pahami sebagai cobaan, fitnah dan ujian atas keimanan. Allah SWT mengajarkan kepada mereka hal itu melalui firman-Nya:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ – وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan, “Kami telah beriman,” sementara mereka tidak diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sehingga Allah benar-benar mengetahui mana orang-orang yang benar dan mana orang-orang yang dusta (TQS al-Ankabut [29]: 2-3).

Dalam ayat lain Allah SWT juga menanamkan keberanian yang didasari keyakinan kepada kaum Mukmin dengan jaminan bahwa Allah SWT adalah Penolong sekaligus Pelindung mereka dari berbagai fitnah yang dilancarkan oleh orang-orang kafir kepada mereka. Allah SWT berfirman:

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
Kamilah Pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan apa yang kalian minta (TQS Fushshilat [41]: 31).

Bahkan Allah SWT memberitahu kaum Mukmin bahwa orang-orang yang memfitnahi mereka akan dibalas dengan azab-Nya. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
Sungguh orang-orang yang menimpakan cobaan kepada kaum Mukmin laki-laki dan perempuan. kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab Jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar (TQS al-Buruj [85]: 10).

Terkait ayat di atas, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa orang-orang yang membuat fitnah terhadap kaum Mukmin, jika tidak segera bertobat dan menghentikan tindakan mereka serta tidak menyesal atas fitnah yang pernah mereka timpakan atas kaum Mukmin pada masa lalu, maka mereka bakal ditimpa dengan siksaan yang membakar.

Wahai Para Penerus Perjuangan Rasulullah saw.:

Oleh karena itu, keberanian dan keyakinan sudah sepantasnya berada di dalam diri seorang Mukmin, pejuang kebenaran, pelanjut pembawa Risalah Islam yang rahmatan lil alamin. Ragam tudingan—seperti radikal, anti kebhinekaan, anti Pancasila dan NKRI serta tudinghan lain yang tidak berdasar—kepada para pejuang Islam yang menghendaki penerapan syariah Islam secara kâffah adalah fitnah yang harus dihadapi dengan sikap tenang dan penuh keberanian.

Tentu kita menolak cara-cara kekerasan dalam berjuang menegakkan Islam di muka bumi ini. Mengubah pikiran dan keyakinan manusia agar mau menerapkan Islam secara kâffah tidaklah dengan senjata dan cara-cara kekerasan, tetapi dengan cara berdiskusi, adu argumentasi, bahkan mungkin berdebat untuk menyibak kepalsuan dari sebuah kebatilan dan sekaligus menampilkan kebenaran Islam secara nyata.

Alhasil, sekali lagi penting kita sadari bahwa kaum Mukmin yang sudah lurus dalam menempuh jalan yang dicontohkan Rasulullah saw. dalam menegakkan Islam pasti akan menghadapi banyak fitnah. Itu wajar, sesuai sunnah Rasulullah saw. dan para pejuang kebenaran sebelum beliau. Datangnya fitnah dari segala penjuru dengan aneka ragam bentuknya tidak lain demi menggagalkan perjuangan kaum Mukmin dalam menegakkan kebenaran Islam. Musuh-musuh Islam memang akan selalu berbuat makar. Namun, yakinlah bahwa makar mereka akan dibalas oleh Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Mereka membuat makar, Allah pun membalas makar (mereka). Allah adalah Sebaik-baik Pembalas makar mereka (TQS Ali Imran [3]: 54). WalLâhu a’lam. []

Komentar al-Islam:
Perppu Pembubaran Ormas Radikal Diumumkan Besok (Rabu, red.) (Republika.co.id, 11/7/2017).
1. Yusril Ihza Mahendra: Tidak Ada Kegentingan yang Memaksa yang Memungkinkan Presiden Keluarkan Perpu Mengubah UU Ormas (Hizbut-tahrir.or.id, 11/7/2017).
2. Artinya, dengan mengeluarkan Perppu untuk membubarkan Ormas, Pemerintah telah melanggar UU yang berlaku.
3. Jika Pemerintah melanggar UU yang dibuatnya sendiri, jangan salahkan jika masyarakat makin tidak percaya kepada Pemerintah yang semakin bertindak sewenang-wenang.

Tsumamah bin Utsal

“Melakukan embargo ekonomi terhadap kaum Quraisy.”

Pada tahun 6 H, Rasulullah SAW bertekad untuk memperluas daerah dakwahnya. Beliau menuliskan 8 surat yang ditujukan kepada para raja dan penguasa Arab dan non Arab. Rasulullah juga mengutus beberapa orang yang membawa surat-surat tersebut untuk mengajak para raja dan penguasa tadi untuk memeluk Islam.

Salah seorang dari penguasa yang mendapatkan surat dari Rasulullah SAW adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi. Hal itu tidak mengherankan, karena Tsumamah adalah seorang penguasa Arab pada zaman Jahiliyyah…. dan ia termasuk salah seorang pembesar Bani Hanifah yang terpandang. Ia juga salah seorang raja dari Yamamah yang setiap perintahnya harus ditaati.

***

Tsumamah menerima surat Rasul SAW dengan sikap meremehkan dan menolak. Ia mengambilnya dengan congkak dan ia tidak mau mendengarkan dakwah kebenaran dan kebaikan yang sampai kepadanya. Lalu setan menyuruhnya untuk membunuh Rasulullah SAW dan menamatkan riwayat dakwah beliau. Maka Tsumamah mulai mencari kesempatan terbaik untuk membunuh Rasulullah saat beliau lengah. Tapi makar ini tidak berhasil, karena salah seorang paman Tsumamah memberitahukan kepada Rasul niat Tsumamah untuk membunuh beliau. Maka Allah SWT menyelamatkan Nabi-Nya dari kejahatan Tsumamah.

Namun, meski Tsumamah telah mengurungkan niat untuk membunuh Rasul SAW, akan tetapi ia masih bertekad untuk membunuh para sahabat Rasulullah. Ia menunggu kesempatan untuk melakukan hal tersebut. Akhirnya ia berhasil menangkap beberapa orang sahabat Rasulullah dan membunuh mereka dengan begitu kejamnya. Maka Nabi SAW langsung memberitahukan kepada para sahabatnya bahwa beliau telah menghalalkan darah Tsumamah untuk dibunuh.

***

Tidak lama berselang sejak kejadian itu, Tsumamah pun berniat untuk melakukan umrah. Ia berangkat dari kampungnya bernama Yamamah menuju Makkah. Dalam perjalanan, ia berkhayal melakukan thawaf berkeliling Ka’bah dan melakukan penyembelihan untuk para berhala yang ada di sana..

***

Saat Tsumamah berada di tengah perjalanan dekat dengan Madinah, maka ia mendapatkan musibah yang belum pernah dibayangkan olehnya.

Ada serombongan pasukan Rasulullah yang bertugas untuk mengintai dan mengawasi sekeliling pemukiman karena khawatir ada pihak musuh yang hendak menyusup dan melakukan kejahatan di Madinah.

Maka pasukan tadi langsung menawan Tsumamah –dan pasukan ini tidak mengenal Tsumamah- lalu membawanya ke Madinah. Rombongan pasukan ini mengikat Tsumamah bersama dengan beberapa tawanan yang diikat di masjid. Mereka mengikat para tawanan tadi sambil menunggu hingga Rasul SAW sendiri yang memberi keputusan tentang para tawanan ini.

Rasulullah SAW keluar rumah untuk pergi ke masjid, begitu beliau hendak masuk ke dalamnya, beliau melihat Tsumamah sedang diikat oleh pasukan. Maka Rasulullah langsung bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah kalian tahu siapa yang kalian tawan ini?” Para sahabat menjawab, “Tidak, ya Rasulullah.” Rasulullah berkata, “Ini adalah Tsumamah bin Utsal al-Hanafi. Bersikaplah yang baik tehadapnya!”

Lalu Rasulullah SAW kembali ke rumahnya lagi dan berkata kepada keluarganya, “Kumpulkan makanan yang ada pada kalian dan kirimkan kepada Tsumamah bin Utsal!” Kemudian beliau memerintahkan keluarganya untuk memerah susu unta miliknya setiap pagi dan petang dan membawa susu tersebut kepada Tsumamah. Semua itu dilakukan sebelum Tsumamah berjumpa atau berbicara kepada Rasulullah SAW.

***

Kemudian Rasulullah SAW mendatangi Tsumamah dengan niat mengajak Tsumamah masuk ke dalam Islam. Beliau bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Tsumamah?” Tsumamah menjawab, “Aku baik-baik saja, wahai Muhammad! Jika kau hendak membunuhku, maka sepantasnyalah kau membunuhku, karena aku telah banyak membunuh sahabatmu. Jika kau mau memaafkan, aku akan amat berterima kasih. Jika kau menginginkan harta, sebut saja sesukamu pasti akan diberikan.

Lalu Rasulullah SAW membiarkan Tsumamah seperti itu selama dua hari. Ia diberi makan dan minum dan selalu diberi susu unta. Dua hari kemudian Rasulullah mendatanginya lagi dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Tsumamah?” Tsumamah menjawab, “Aku masih tetap dengan apa yang telah aku katakan sebelumnya. Jika kau mau memaafkan, aku akan amat berterima kasih. Jika kau hendak membunuhku, maka sepantasnyalah engkau membunuhku, karena aku telah banyak membunuh sahabatmu. Jika kau menginginkan harta, minta saja sesukamu, pasti aku akan memberikannya.”

Lalu Rasulullah meninggalkannya lagi, dan pada hari keesokannya Rasul mendatanginya lagi dengan bertanya, “Bagaimana keadaanmu, wahai Tsumamah?” Ia menjawab, “Seperti yang pernah aku katakan kepadamu. Jika kau mau memaafkan, aku akan amat berterimakasih. Jika kau hendak membunuhku, maka sepantasnyalah engkau membunuhku, karena aku telah banyak membunuh sahabatmu. Jika kau menginginkan harta, minta saja sesukamu, pasti aku akan memberikannya.”

Rasulullah langsung menoleh ke arah para sahabatnya sambil berkata, “Bebaskan Tsumamah!” Maka para sahabat melepas ikatan yang melilit tubuh Tsumamah dan membebaskannya.

***

Tsumamah pergi meninggalkan masjid Rasulullah dan ia terus melanjutkan perjalannya sehingga ia tiba di sebuah pohon kurma di ujung kota Madinah -dekat dengan Baqi-, dekat pohon tersebut terdapat mata air sehingga ia bisa memberi minum hewan tunggangannya. Ia langsung mandi dengan bersih di mata air tersebut, lalu ia melanjutkan perjalannya menuju Masjidil Haram.

Belum juga ia sampai di Makkah, ia berjumpa dengan sekelompok kaum Muslimin yang berkata, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Lalu Tsumamah kembali lagi menghadap Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Muhammad, demi Allah, tidak ada wajah yang paling aku benci selain wajahmu. Kini, wajahmu menjadi wajah yang paling aku sukai di muka bumi ini. Demi Allah, tidak ada agama di muka bumi ini yang paling aku benci selain agamamu. Kini, ia telah menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, tidak ada negeri yang paling aku benci selain negrimu. Kini, ia menjadi negeri yang paling aku sayangi!” Lalu ia menambahkan, “Aku telah banyak membunuh sahabatmu, lalu apa yang akan kau lakukan kepadaku?” Rasulullah SAW berkata, “Engkau tidak akan dicelakakan…. karena Islam telah menghapuskan kesalahan yang pernah dilakukan oleh seseorang.” Rasulullah SAW memberitahukan Tsumamah akan kebaikan yang telah Allah tetapkan pada dirinya karena ia telah mau memeluk Islam.

Raut muka Tsumamah langsung sumringah dibuatnya, dan ia langsung berujar, “Demi Allah, aku akan membunuh kaum Musyrikin berlipat-lipat dari jumlah para sahabatmu yang telah aku bunuh. Aku akan menyerahkan diriku, pedangku dan semua pengikutku untuk membela agamamu.”

Lalu ia berkata, “Ya Rasulullah, aku tertarik dengan kudamu karena aku berniat melakukan umrah. Apa yang mesti aku lakukan?” Rasulullah SAW berkata, “Pergilah untuk melakukan umrah, akan tetapi harus sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya.” Lalu beliau mengajarkan kepadanya manasik yang mesti dilakukan.

***

Tsumamah pergi untuk melakukan niatnya hingga ia sampai di Makkah.ia berdiri dengan meneriakkan talbiyah dengan suara kencang, “Labbaikallaahumma labaik. Labaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan nikmata laka wal mulk, laa syariika lak. (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan –Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya, pujian, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu). Tsumamah menjadi Muslim pertama yang masuk ke Makkah dengan meneriakkan talbiyah.

***

Suku Quraisy mendengar suara talbiyah yang diteriakkan oleh Tsumamah. Mereka menjadi berang dibuatnya. Mereka sengaja menghunuskan pedang dari sarungnya, dan berlari ke arah sumber suara untuk membunuh orang yang berani menyusup ke Makkah dengan membaca kalimat tersebut.

Begitu kaum Quraisy datang menghampiri Tsumamah, ia malah memperkeras suaranya meneriakka talbiyah. Ia menatap ke arah suku Quraisy dengan gagahnya. Salah seorang pemuda suku Quraisy berniat untuk memanah Tsumamah. Lalu suku Quraisy yang lain mencegahnya seraya berkata, “Celakalah kamu, apakah kamu tidak kenal dengan orang itu? Dia adalah Tsumamah bin Utsal, Raja Yamamah. Demi Allah, jika kalian membunuhnya, maka kaumya tidak akan mengirimkan makanan lagi kepada kita dan kita bisa mati kelaparan.”

Kemudian suku Quraisy mendatangi Tsumamah setelah mereka memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya. Suku Quraisy bertanya, “Ada apa denganmu, wahai Tsumamah? Apakah engkau telah hilang kesadaran dan meninggalkan agamamu dan agama bapak moyangmu?!” Tsumamah menjawab, “Aku tidak hilang kesadaran, akan tetapi aku kini mengikuti agama terbaik…. aku telah mengikuti agama Muhammad.” Ia menambahkan, “Aku bersumpah demi Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), setelah aku kembali lagi ke Yamamah, kalian tidak akan pernah menerima kiriman gandum atau komoditas apapun dari sana sehingga kalian semua mengikuti agama Muhammad….”

***

Tsumamah bin Utsal menjalankan umrah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW di hadapan para suku Quraisy. Ia menyembelih hewan sembelihan di sana sebagai pendekatan diri kepada Allah bukan kepada para berhala. Ia pun kembali ke negerinya dan memerintahkan kepada penduduk Yamamah untuk menghentikan pengiriman produk kepada suku Quraisy. Ia menjelaskan dengan tegas perintahnya ini dan kaumnya pun menuruti akan titahnya. Mereka tidak mengirimkan komoditas mereka kepada penduduk Makkah.

***

Embargo yang diterapkan Tsumamah semakin terasa dampaknya oleh suku Quraisy. Harga semakin tinggi, manusia kelaparan dan mereka menjadi panik dibuatnya. Mereka menjadi khawatir akan keselamatan diri dan anak-anak mereka dari bahaya kelaparan.

Dalam keadaan sedemikian genting. Bangsa Quraisy mengirimkan surat kepada Rasulullah SAW yang isinya, “Salah satu perjanjian di antara kita adalah bahwa engkau akan tetap berusaha menjaga silaturrahim…. kini, engkau sudah memutuskan hubungan silaturrahim ini; karena engkau telah membunuh kaum bapak kami dengan pedang dan membunuh anak-anak kami dengan rasa lapar.

Tsumamah bin Utsal telah mengembargo produk mereka kepada kami sehingga membuat kami dalam bahaya. Jika kau tak berkeberatan untuk mengirimkan surat kepadanya agar ia tetap mengirimkan apa yang kami butuhkan, maka lakukanlah!”

Kemudian Rasulullah SAW mengirimkan surat kepada Tsumamah agar ia mengirimkan kembali komoditinya kepada kaum Quraisy, dan Tsumamah langsung melakukannya.

***

Selagi ia hidup, Tsumamah bin Utsal senantiasa memelihara agamanya dan menjaga janjinya kepada Rasulullah SAW. Begitu Rasulullah SAW wafat, banyak dari kalangan bangsa Arab yang keluar dari agama Allah secara bersama-sama atau sendirian. Saat itu Musailamah al-Kadzdzab melakukan dakwah dikalangan Bani Hanifah, mengajak mereka untuk beriman kepadanya. Tsumamah yang tahu akan hal itu mendatangi Musailamah dan berkata kepada kaumnya, “Wahai Bani Hanifah, hati-hatilah kalian dengan urusan kegelapan yang tiada cahaya di dalamnya ini…. Ketahuilah, demi Allah, ini merupakan bencana bagi orang diantara kalian yang mau mengikutinya. Ia juga merupakan bencana bagi orang-orang yang mau menaatinya.”

Ia juga menyerukan, “Wahai Bani Hanifah. Tidak pernah ada dua nabi dalam masa yang sama. Sungguh Muhammad adalah Rasulullah, dan tidak ada Nabi sesudahnya, dan juga tidak ada Nabi yang diutus bersamaan dengannya.” Lalu Tsumamah membacakan kepada mereka, “Haa Miim, Diturunkan kitab ini (Al-Quran) dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; yang mempunyai karunia. Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nya lah kembali (semua makhluk).” (QS. Al-Mu’min: 1-3)

Lalu ia berujar, “Bagaimana kalian dapat membandingkan kalam Allah dengan ucapan Musailamah, “Wahai kodok yang bersih, alangkah bersihnya dirimu. Tidak ada minuman yang dipantangkan bagimu, dan tidak ada air yang kau buat keruh.”

Kemudian Tsumamah bergabung dengan mereka yang tersisa dari kaumnya yang masih memeluk Islam, dan menyerang kaum murtad sebagai jihad di jalan Allah dan menegakkan kalimat-Nya di muka bumi.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan Tsumamah yang telah mendedikasikan kehidupannya kepada Islam dan kaum Muslimin. Semoga Allah memuliakannya dengan surga yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa.


Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari

“Janganlah kalian tunjuk Al Barra’ menjadi Amir dalam pasukan Muslimin, karena dikhawatirkan ia dapat mencelakakan tentaranya karena ingin terus maju.” –Umar bin Khattab

Rambutnya berantakan. Badannya kurus. Tulangnya kecil. Gesit dan sulit dilihat. Akan tetapi meski demikian, ia berhasil membunuh 100 orang musyrik dalam sekali perang, selain orang-orang yang berhasil dibunuhnya dalam perang-perang yang diikutinya bersama para pejuang.

Ia adalah orang yang gagah berani dan pantang mundur, demikian tulis Umar dalam sebuah surat yang ia tujukan untuk para pembantunya, “Janganlah ia ditunjuk sebagai pimpinan pasukan Muslimin, karena khawatir  mereka semua terbunuh karena maju terus.”

Dialah Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari, saudara Anas bin Malik, pembantu Rasulullah SAW.

Jika aku paparkan semua kisah kepahlawanan Al-Barra’ bin Malik, pasti akan membutuhkan banyak ruang dan halaman; karenanya aku hanya akan menceritakan satu kisah saja dari kepahlawanannya yang dapat memberikan gambaran kepadamu tentang kisah kepahlawanannya yang lain.

***

Kisah ini dimulai saat Rasulullah SAW wafat dan kembali ke pangkuan Tuhannya, saat beberapa Kabilah Arab keluar dari agama Allah secara berbondong-bondong, seperti saat mereka masuk ke agama tersebut secara berbondong-bondong. Sehingga yang tersisa hanyalah para penduduk Makkah, Madinah, Thaif dan beberapa kelompok di sana-sini yang Allah tetapkan hatinya untuk terus beriman.

***

Abu Bakar ash-Shiddiq tetap tegar menghadapi fitnah yang merebak ini. Ia tegar bagai gunung kokoh yang tak bergeming. Ia menyiapkan 11 pasukan yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau juga menyiapkan 11 panji yang masing-masing dibawa oleh panglima pasukan tadi. Ia mengutus ke sebelas pasukan tadi ke seluruh penjuru Arab untuk mengembalikan mereka yang murtad kepada jalan petunjuk dan kebenaran, dan untuk menggiring orang-orang yang sesat menuju jalan yang lurus lewat sabetan pedang.

Kaum murtad yang paling kuat dan banyak pasukannya adalah Bani Hanifah yang menjadi para pendukung Musailamah al-Kadzdzab. Saat itu Musailamah didukung oleh kaum dan sekutunya yang  berjumlah 40 ribu orang pejuang. Kebanyakan dari mereka mendukungnya karena fanatisme dan bukannya karena beriman kepadanya. Sebagian dari mereka mengatakan, “Aku bersaksi bahwa Musailamah adalah pembohong dan Muhammad adalah benar. Tetapi pembohong yang berasal dari suku Rabi’ah lebih kami sukai daripada orang yang  benar berasal dari suku Mudhar.”

Musailamah berhasil mengalahkan dan memukul mundur pasukan pertama kaum Muslimiin yang dikirimkan kepadanya di bawah komando Ikrimah bin Abi Jahal.

Lalu Abu Bakar mengirimkan pasukan Muslimin kedua kepada Musailamah di bawah komando Khalid bin Walid di mana pasukan tersebut dipenuhi dengan para tokoh Anshar dan Muhajirin. Salah satu dari mereka adalah Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari

***

Kedua pasukan bertemu di daerah Al-Yamamah di Najd. Hanya sebentar saja, pasukan Musailamah dan pendukungnya terlihat unggul. Bumi yang dipijak oleh pasukan Muslimin terasa berguncang saat itu. Kaum muslimin mulai bergerak mundur dan terjepit. Sehingga para pendukung Musailamah dapat menyusup ke tenda induk Khalid bin Walid. Mereka mencabut tali dan tiang tenda tersebut, bahkan mereka hampir saja membunuh istri Khalid kalau saja tidak ada seorang dari pasukan Muslimin yang melindunginya.

Ketika itu kaum Muslimin merasakan bahaya yang begitu besar. Mereka menyadari bahwa bila mereka sampai kalah oleh Musailamah maka Islam tidak akan berdiri tegak lagi dan Allah SWT tidak akan pernah disembah lagi di Jazirah Arab.

Khalid langsung bangkit menuju pasukannya. Ia mulai mengatur kembali pasukannya. Ia mendahulukan kaum Muhajirin di pasukan depan dan Anshar di belakang. Dan ia menempatkan orang-orang Badui di barisan tersebut.

Khalid juga mengumpulkan anak-anak yang berasal dari satu bapak dengan satu panji agar ia dapat mengetahui musibah yang menimpa setiap regu dalam peperangan ini, dan juga agar ia tahu dari sisi mana kaum Muslimin diserang.

Maka terjadilah perang di antara dua kubu yang begitu hebatnya. Kaum Muslimin belum pernah menjalani peperangan yang begitu dahsyat seperti ini sebelumnya. Kaum Musailamah telah berdiri dengan congkaknya di medan perang seolah mereka bagai gunung yang tak bergeming dan mereka seolah tidak peduli akan banyaknya korban yang mereka terima….

Kaum Muslimin saat itu didukung oleh para pahlawan yang bila dikumpulkan dalam tulisan maka akan menjadi sebuah kisah kepahlawanan yang amat menarik.

Terdapat di sana Tsabit bin Qais pembawa panji Al-Anshar yang telah menyiapkan peralatan kematian, kain kafan dan menggali sendiri kuburan untuk dirinya. Ia masuk ke dalam lubang yang digalinya tersebut sehingga mencapai separo dari betisnya. Ia berdiri tegap dalam posisinya itu. Ia berjuang  mempertahankan panji kaumnya sehingga ia binasa dan  menjadi syahid.

Ada lagi kisah Zaid bin Khattab, saudara Umar bin Khattab RA yang menyeru pasukan Muslimin, “Wahai semua manusia, gigitlah kuat-kuat geraham kalian, seranglah musuh kalian dan terus maju pantang mundur….! Wahai semua manusia, Demi Allah, aku tidak akan berkata apa pun lagi setelah ini sehingga Musailamah dapat dikalahkan atau hingga aku berjumpa Allah dan aku akan bersaksi di hadapannya….” kemudian ia mulai menyerang musuh dan terus berperang sehingga mati syahid.

Ada juga Salim budak Abu Hudzaifah yang membawa panji kaum Muhajirin. Kaumnya khawatir akan kelemahan fisik dan rasa takut yang dimilikinya, sehingga kaumnya berkata kepada Salim, “Kami khawatir kita akan diserang dari arahmu.” Salim menjawab, “Jika kalian diserang musuh dari arahku, maka seburuk-buruknya penjaga Alquran adalah aku.” Kemudian Salim menyerang para musuh Allah dengan begitu beraninya, sehingga ia mati syahid.

Akan tetapi smeua pahlawan tadi  masih kalah dibandingkan kisah kepahlawanan Al-Barra’ bin Malik RA. Hal itu karena saat Khalid melihat perang berkecamuk dengan begitu dahsyatnya, ia menoleh ke arah Al-Barra’ bin Malik sambil berkata, “Seranglah mereka, wahai pemuda Anshar!”

Maka Al-Barra’ pun melihat ke arah kaumnya dan berkata, “Wahai kaum Anshar, janganlah salah seorang pun dari kalian berpikir untuk kembali ke Madinah; tidak ada lagi Madinah bagi kalian setelah hari ini…. yang ada hanyalah Allah saja… dan surga…!”

Kemudian Al-Barra’ dan kaumnya membawa panji mereka untuk menyerang kaum Musyrikin. Ia terus menyerang membuka barisan lawan. Ia menebaskan pedangnya di leher para musuh Allah sehingga Musailamah dan pendukungnya terjepit.  Mereka mundur ke sebuah taman yang terkenal dalam sejarah dengan sebutan Hadiqatul Maut (Taman Kematian) karena banyaknya korban yang mati di di hari itu.

***

Hadiqatul Maut adalah sebuah bidang yang luas dan memiliki tembok yang tinggi. Musailamah dan ribuan tentaranya menutup gerbang-gerbang taman tersebut. Mereka semua berlindung dengan tembok-tembok tinggi yang ada di dalamnya, dan mereka menembakkan anak panah mereka dari dalam taman tersebut sehingga anak panah tersebut bagaikan hujan yang turun dengan deras bagi kaum Muslimiin.

Saat itu majulah sang pejuang Islam yang gagah berani bernama Al-Barra’ bin Malik sambil berseru, “Wahai kaumkum, taruhlah aku di alat pelempar; dan arahkanlah ke arah para pemanah itu. Lemparkanlah aku ke dalam taman dekat gerbangnya. Karenanya bila aku tidak mati syahid, maka aku akan membukakan gerbang taman untuk kalian.

***

Dalam sekejap, Al-Barra’ bin Malik telah duduk di atas alat pelempar. Ia adalah seorang yang berbadan kurus. Maka para pejuang yang lain mengangkat dan melemparkannya ke dalam Hadiqatul Maut di antara ribuan pasukan Musailamah. Maka turunlah Al-Barra’ di pihak musuh seperti kilat menyambar. Ia terus menyerang mereka di depan gerbang taman dan ia berhasil membunuh 10 orang dari mereka dan berhasil membuka gerbang. Dan ia mengalami lebih dari 80 luka panah dan sabetan pedang karenanya.

Maka kaum Muslimin langsung merangsek ke arah Hadiqatul Maut dari seluruh penjuru pagard dan gerbangnya. Mereka menyabetkan pedang ke arah leher para kelompok murtad, sehingga tidak kurang dari 20 ribu pihak mereka menjadi korban termasuk Musailamah Al-Kadzdzab.

***

Al-Barra’ bin Malik dibawa dengan kendaraannya untuk mendapatkan perawatan. Khalid bin Walid merawatnya selama sebulan penuh untuk menyembuhkan semua luka yang ada pada tubuh Al-Barra’ hingga akhirnya ia pun pulih kembali. Dengan keberanian Al-Barra’, pasukan Muslimin meraih kemenangan telak.

***

Al-Barra’ telah mengobarkan semangatnya untuk mendapatkan kesyahidan dalam peristiwa Hadiqatul Maut. Ia terus mengikuti perang dan perang karena ingin mewujudkan cita-citanya yang tertinggi itu dan karena rindu kepada Nabi SAW, sehingga pada hari penaklukan Kota Tustar di Negeri Persia. Persia saat itu dibentengi dengan salah satu benteng yang terletak di dataran tinggi. Kaum Muslimin telah berhasil mengepung mereka dengan begitu ketatnya. Saat pengepungan tersebut berlangsung cukup lama dan pihak Persia sudah merasa semakin terjepit, maka mereka membuat rantai besi yang mereka ulurkan dari pagar benteng tersebut. Di ujung rantai digantungkan penjepit yang terbuat dari batu yang disulut api sehingga lebih panas dari batu bara. Penjepit itu berputar mengenai tubuh kaum muslimin dan mencomot tubuh mereka. Pasukan Persia mengangkat tubuh kaum Muslimin yang terkena jepitan tadi ke atas, baik dalam keadaan mati ataupun sekarat.

Para pasukan Persia yang bertugas menggunakan alat tersebut mengarahkannya kepada Anas bin Malik –saudara Al-Barra’ bin Malik-. Begitu melihatnya, Al-Barra’ langsung melompat ke arah tembok benteng demi meraih rantai yang telah mengambil tubuh saudaranya. Al-Barra’ berjuang keras untuk menggoncang penjepit tadi untuk mengeluarkan Anas dari dalamnya. Tangan Al-Barra’ jadi terbakar dan melepuh, ia tidak menghentikan usahanya sehingga saudaranya terbebas, dan ia pun jatuh setelah hanya tulang yang tersisa dari tangannya tanpa daging sedikit pun.

Dalam peperangan ini, Al-Barra’ bin Malik al-Anshari berdoa kepada Allah agar ia diberikan mati syahid. Dan Allah mengabulkan permohonannya. Al-Barra’ akhirnya mati sebagai seorang syahid yang amat rindu dengan perjumpaan dengan Allah SWT.

Semoga Allah SWT menyinari wajah Al-Barra’ bin Malik di surga, dan membuat dirinya tenang dengan hidup bersama Nabi-Nya Muhammad SAW. Semoga Allah meridhainya dan ia ridha kepada Tuhannya.


Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya

 

Umair bin Wahab

“Umair bin Wahab telah menjadi orang yang paling aku kasihi di antara para anakku.” –Umar bin Khattab

Umair bin Wahab al-Jumahi kembali dari perang Badar dalam kondisi selamat, akan tetapi ia pulang tanpa membawa anaknya yang bernama Wahab karena ditawan oleh kaum Muslimin.

Umair amat khawatir bila kaum Muslimin akan menyiksa anaknya karena dosa yang telah dibuat oleh ayahnya. Ia juga amat khawatir bila kaum Muslimin akan menganiaya anaknya dengan bengis sebagai balas dari tindakan ayahnya saat menyakiti Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

***

Di suatu pagi, Umair hendak pergi ke Masjidil Haram untuk berthawaf di Ka’bah dan mencari keberkahan para berhala yang ada di sana. Ia bertemu dengan Shafwan bin Umayyah yang sedang duduk di samping Hijir Ismail. Lalu Umair menghampirinya dan berkata, “Selamat pagi, wahai pemuka Bangsa Quraisy!” Shafwan membalas, “Selamat pagi, Abu Wahab. Duduklah agar kita dapat berbicara sejenak! Sebab waktu dapat berhenti karena pembicaraan.”

Umair pun duduk di hadapan Shafwan bin Umayyah. Kedua pria tersebut akhirnya mengingat peristiwa Badar dan kekalahan mereka yang telak. Mereka juga menghitung kaum mereka yang menjadi tawanan di tangan Muhammad dan para sahabatnya. Dan mereka menjadi bergidik saat mengingat para pembesar Quraisy yang mati terbunuh oleh pedang kaum Muslimin, dan mereka terkenang akan Al-Qalib…. Lalu Shafwan langsung berseru, “Demi Allah, tidak ada kehidupan yang lebih nikmat setelah mereka.” Umair menyahut, “Demi Allah, engkau benar.” Lama berselang Umair berkata lagi, “Demi Tuhan pemilik Ka’bah, kalau aku tidak ingat utangku yang tidak sanggup aku bayar, kalau saja aku tidak khawatir dengan keluarga yang aku khawatirkan kehidupan mereka bila aku tidak ada, pasti aku sudah mendatangi Muhammad dan membunuhnya sehingga aku dapat menyelesaikannya dan menolak segala kejahatannya….” Kemudian ia meneruskan lagi ucapannya dengan suara pelan, “Dan keberadaan anakku yang bernama Wahab yang menjadi tawanan mereka, itu yang membuat kepergian ke Yastrib menjadi hal yang tidak dapat dielakan.”

***

Shafwan bin Umayyah memegang ucapan Umair bin Wahab. Sebelum kesempatan berlalu, Shafwan memandang Umair seraya berkata, “Wahai Umair, aku akan menanggung semua utangmu berapa pun jumlahnya…. Sedang keluargamu, aku akan menjadikan mereka seperti keluargaku selagi aku dan mereka masih hidup. Aku memiliki uang yang cukup banyak untuk merawat mereka semua. Lalu Umair menjawab, “Kalau begitu, jagalah pembicaraan ini dan jangan sampai ada seorangpun yang tahu!” Shafwan langsung membalasnya, “Aku jamin.”

***

Umair bangkit dari masjid dan api kedengkian menyala dengan hebat dalam hatinya kepada Muhammad SAW. Lalu ia mempersiapkan bekal untuk mewujudkan tekadnya. Ia tidak khawatir kegelisahan orang lain akan perjalanan yang ia lakukan; hal itu karena para keluarga tawanan Quraisy lainnya ragu untuk pergi ke Yastrib demi mencari keluarganya yang ditawan di sana.

***

Umair meminta keluarganya untuk mengasah pedangnya lalu melumurkannya dengan racun. Ia juga meminta agar kendaraannya dipersiapkan dan dibawa ke hadapannya, lalu ia pun menungganginya. Ia mulai menuju Madinah dengan salendang kebencian dan kejahatan. Akhirnya Umair tiba di Madinah dan ia berjalan menuju Masjid untuk mencari Rasulullah SAW. Saat ia sudah hampir mendekat ke pintu masjid, ia memberhentikan tunggangannya lalu turun.

***

Saat itu Umar bin Khattab RA sedang duduk bersama para sahabat yang lain dekat pintu masjid. Mereka sedang mengenang perang Badar dan tawanan Quraisy serta jumlah yang terbunuh dari pihak mereka. Mereka juga mengingat anugerah kemenangan yang Allah berikan kepada mereka, dan apa yang Allah perlihatkan kepada mereka tentang kekalahan yang diterima oleh musuh.

Saat kepala Umar menoleh, ia melihat Umair bin Wahab yang baru turun dari kendaraannya. Terlihat Umair sedang berjalan ke arah masjid dengan pedang terhunus. Maka Umar langsung bangkit dengan khawatir seraya berkata, “Inilah si anjing musuh Allah, Umair bin Wahab…. Demi Allah, pastilah ia datang hendak membuat keburukan. Dialah yang pernah menghasut kaum musyrikin di Makkah untuk memusuhi kami. Dan dia juga yang selalu menjadi mata-mata sebelum terjadinya perang Badar.”

Lalu Umair berpesan kepada para sahabatnya, “Pergilah kepada Rasulullah dan tetaplah kalian bersamanya! Waspadalah saat setan pembuat makar ini akan berlaku khianat kepada beliau!”

Kemudian Umar datang menghadap Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah, ada musuh Allah bernama Umair bin Wahab datang dengan membawa pedang terhunus. Aku menduga bahwa ia ingin membuat kerusakan.” Lalu beliau berkata, “Bawalah ia menghadapku!”

Kemudian Umar mendatangi Umair bin Wahab. Lalu Umar mengambil kerah baju Umair dengan keras dan melipat leher Umair sampai mencium tempat pedang yang ada di pinggulnya. Lalu Umar membawanya menghadap Rasulullah SAW.

Saat Rasulullah SAW mendapatinya dalam kondisi demikian, maka beliau berkata kepada Umar, “Lepaskan dia, ya Umar!” Lalu Umar pun melepaskannya dan berkata kepada Umair, “Menjauhlah dari Rasul!”

Umair menjauh dari Rasul. Lalu Rasulullah mendekat ke arah Umair bin Wahab seraya berkata, “Duduklah ya Umair!” Lalu Umair pun duduk dan berkata, “Selamat pagi!” Kemudian Rasulullah SAW menjawab, Allah telah memuliakan kami dengan ucapan penghormatan yang lebih baik dari yang kau ucapkan, wahai Umair! Allah telah memuliakan kami dengan salam itu dan itu adalah ucapan ahli surga.” Kemudian Umair menjawab, “Demi Allah, apa yang kau ucapkan tidak jauh berbeda dengan ucapan kami. Dan jarakmu dengan kami hanya sedikit saja.” Lalu Rasul SAW bertanya kepadanya, “Apa yang membawamu ke sini, wahai Umair?” Umair menjawab, “Aku ke sini untuk memohon kebebasan bagi tawanan yang kalian tawan. Bersikaplah baik kepadaku dalam hal ini.” Rasul SAW bertanya lagi, “Lalu apa maksudnya pedang yang kau bawa di lehermu ini?” Umair menjawab, “Ini adalah pedang yang jelek…. apakah ia bermanfaat buat kami saat terjadinya perang Badar?!” Rasulullah SAW bertanya lagi, “Berkatalah yang jujur, apa yang kau inginkan hingga datang ke sini, wahai Umair?” Umair menjawab, “Aku hanya datang untuk maksud yang telah aku sebutkan.” Rasulullah SAW berkata, “Bukan, namun kau pernah duduk bersama Shafwan bin Umayyah dekat Hijir Ismail, dan kalian berdua mengenang orang-orang Quraisy yang terkubur di Al-Qalib lalu kau berkata, ‘Kalau bukan karena utang dan keluargaku, aku akan datang kepada Muhammad lalu membunuhnya…. Lalu Shafwan bin Umayah bersedia untuk membayar utangmu dan menjaga keluargamu agar engkau dapat membunuhku…. dan Allah adalah penghalang dirimu untuk melakukannya.”

Umair merasa terkejut sesaat, lalu ia berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” Kemudian ia mengatakan, “Dahulu kami selalu mendustakan apa yang engkau bawa dari berita langit. Dan kami juga mendustakan wahyu yang turun kepadamu. Akan tetapi kisah pembicaraanku dengan Shafwan bin Umayyah tidak ada yang mengetahuinya selain aku dan dia. Demi Allah, kini aku yakin bahwa yang telah memberitahukanmu adalah Allah. Segala puji bagi Allah yang telah  mengantarkan aku ke sini untuk menunjukkan aku kepada Islam.”

Kemudian ia bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT. Ajarkan kepadanya Alquran dan bebaskan tawanannya!”

***

Kaum muslimin amat bergembira dengan keislaman Umair bin Wahab; bahkan Umar bin Khattab RA sempat berkata, “Tidak ada babi yang lebih aku cintai selain Umair bin Wahab. Mulai hari ini ia adalah orang yang paling aku cintai daripda anakku sendiri.

***

Umair yang sedang mensucikan dirinya dengan ajaran Islam, mengisi hatinya dengan cahaya Alquran, serta mengisi hari-hari terindah dalam sisa umurnya, membuat ia terlupa akan Makkah dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Pada saat yang sama, Shafwan bin Umayyah sedang berangan-angan, dan ia melewati perkumpulan orang-orang Quraisy sambil berkata, “Bergembiralah dengan berita besar yang akan kalian dengar sebentar lagi. Sebuah berita yang akan membuat kalian meluapakan peristiwa Badar!”

Setelah penantian cukup lama yang dijalani Shafwan bin Umayyah, maka sedikit demi sedikit ia merasa kekhawatiran merasuki dirinya sehingga hatinya menjadi lebih panas ketimbang batu bara. Ia mulai kasak-kusuk bertanya kepada para pengelana tentang kabar Umair bin Wahab, namun tidak satu pun jawaban mereka yang dapat memuaskannya. Kemudian datang seorang pengelana yang mengatakan bahwa Umair telah masuk Islam. Begitu mendengar berita itu, Shafwan seperti tersambar petir dibuatnya…. karena ia menduga bahwa Umair bin Wahab tidak akan masuk Islam meski semua manusia di bumi ini masuk Islam.

***

Sedang Umair bin Wahab sendiri hampir saja menguasai agama yang baru dianutnya dan menghafal beberapa ayat Alquran yang mudah baginya sehingga ia datang menghadap Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, dahulu aku adalah seorang yang selalu berusaha untuk memadamkan cahaya Allah. Dahulunya aku adalah orang yang selalu menyiksa para pemeluk Islam. Aku berharap engkau mengizinkan aku untuk datang ke Makkah untuk berdakwah kepada kaum Quraisy agar kembali ke jalan Allah dan Rasul-Nya. Jika mereka menerima dakwahku, itu amat baik buat mereka. Jika mereka menolak dan berpaling dariku, aku akan menyiksa mereka sebagaimana aku dulunya menyiksa para sahabat Rasulullah SAW.”

Rasulullah SAW memberinya izin dan ia pun berangkat ke Makkah. Sesampainya di sana, ia datang ke rumah Shafwan bin Umayyah sambil berkata, “Wahai Shafwan, engkau adalah salah seorang pemuka kota Makkah, seorang intelektual dari suku Quraisy. Apakah menurutmu apa yang kalian lakukan dengan beribadah kepada batu dan melakukan penyembelihan untuknya dapat diterima oleh akal untuk dijadikan agama?!

“Sedangkan aku kini telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

***

Kemudian Umair mulai berdakwah di Makkah sehingga banyak orang yang masuk Islam karena dakwahnya. Semoga Allah SWT melipatgandakan pahala Umair bin Wahab dan memberikan cahaya pada kuburnya.

Sumber: Sirah 65 Sahabat Rasulullah – Dr. Abdurrahman Ra’fat Al-Basya